Senin, 09 September 2013

Ini tentang apa yang aku pikirkan



Sejatinya manusia terlahir dengan berbagai misteri. Dia dilahirkan dalam sebuah keadaan yang membawanya pada tempat dimana dia mulai berlajar memaknai kehidupan. Ada berbagai macam jenis cara untuk menyelami keindahan dunia. Tapi kadang semuanya tertutup oleh pembatasan realita. Kadang manusia hanya bisa memendam dan berpikir apa yang dia inginkan. Apa yang dia impikan karena pergolakan alam ide dan empirisme. Begitupun dengaku. Aku hanya manusia pembiasa yang tidak memiliki sesuatu special seperti orang hebat yang telah memunculkan banyak kecermelangan karya. aku tumbuh dalam kehidupan yang pembiasa pula. Tidak ada yang menarik. Tidak banyak orang yang tahu tentang siapa aku yang sesungguhnya. Aku hanya orang yang suka berpikir. Memikirkan segalanya . entah itu yang membuatku terheyak atau sebaliknya. Buatku kehidupan ini kadang tidak ada artinya. Kehidupan ini sangat tidak menyenangkan. Karena hidup ini akan di akhiri oleh kematian. Sesuatu yang berakhir itu sangat menyedihkan bukan .  kehilangan itu selalu membawa dampak frustasi dan depresi . Aku adalah pribadi yang tidak menyukai akhir. Aku seorang pribadi yang memuja keabadiaan. Meskipun aku mengerti kehidupan ini fana. Segalanya fana, hanya Tuhan yang tidak pernah fana. Sempat membenci kefanaan. Tapi bukanlah sebuah hak untuk mengeluh dan marah. Ini kuasa Tuhan. Dan memang terkadang kefanaan itu lebih mudah di ceritakan daripada sesuatu yang mutlak selamanya.  Jika semuanya adalah abadi untuk apa ada garis start?! Entahlah memikirkan yang tidak penting selalu membuatku merasa baik-baik saja. Terlalu banyak sebenarnya beban pikiran yang aku punya. Sudah lelah rasanya untuk kembali memaknai perasaan dan hasrat di dalam dada. Toh selalu saja ada yang berbeda antara isi otak dengan kenyataan.
Aku tidak mengerti apa yang di maksud resume kehidupan. Mungkin ini adalah bagian dimana seseorang melabuhkan apa yang dia pikirkan, inginkan dan rasakan. Seperti apa yang aku tulis. Aku tidak begitu paham dengan referensi kebenaran. Karena aku hanya terbiasa menulis dengan cara yang seperti ini. Aku sudah tidak peduli lagi. Ketika aku mulai menulis aku hanya ingin lupa segalanya dan menfokuskan segenap jiwaku pada lahan kata-kata.  Menelantarkan keadaan yang aku jalani untuk merangkai paragraph demi paragraph angan.
Sekali lagi aku tidak pernah merasa special, aku sangat biasa. Berkhayal menjadi orang yang special itu seperti utopia. Pada perjalanannya aku biasa di abaikan dan terabaikan. Entah oleh apa mungkin oleh harapanku sendiri. Memalukan dan sedikit memuakkan sih memang. Tapi yasudahlah. Seiring getaran gelombang garis kehidupan.  Aku mencoba untuk belajar  bersabar dan menjadi pribadi yang  ikhlas .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar