Sejatinya manusia terlahir dengan berbagai misteri. Dia dilahirkan
dalam sebuah keadaan yang membawanya pada tempat dimana dia mulai berlajar
memaknai kehidupan. Ada berbagai macam jenis cara untuk menyelami keindahan
dunia. Tapi kadang semuanya tertutup oleh pembatasan realita. Kadang manusia
hanya bisa memendam dan berpikir apa yang dia inginkan. Apa yang dia impikan
karena pergolakan alam ide dan empirisme. Begitupun dengaku. Aku hanya manusia
pembiasa yang tidak memiliki sesuatu special seperti orang hebat yang telah
memunculkan banyak kecermelangan karya. aku tumbuh dalam kehidupan yang
pembiasa pula. Tidak ada yang menarik. Tidak banyak orang yang tahu tentang
siapa aku yang sesungguhnya. Aku hanya orang yang suka berpikir. Memikirkan segalanya
. entah itu yang membuatku terheyak atau sebaliknya. Buatku kehidupan ini
kadang tidak ada artinya. Kehidupan ini sangat tidak menyenangkan. Karena hidup
ini akan di akhiri oleh kematian. Sesuatu yang berakhir itu sangat menyedihkan
bukan . kehilangan itu selalu membawa dampak
frustasi dan depresi . Aku adalah pribadi yang tidak menyukai akhir. Aku seorang
pribadi yang memuja keabadiaan. Meskipun aku mengerti kehidupan ini fana. Segalanya
fana, hanya Tuhan yang tidak pernah fana. Sempat membenci kefanaan. Tapi bukanlah
sebuah hak untuk mengeluh dan marah. Ini kuasa Tuhan. Dan memang terkadang
kefanaan itu lebih mudah di ceritakan daripada sesuatu yang mutlak selamanya. Jika semuanya adalah abadi untuk apa ada garis
start?! Entahlah memikirkan yang tidak penting selalu membuatku merasa
baik-baik saja. Terlalu banyak sebenarnya beban pikiran yang aku punya. Sudah lelah
rasanya untuk kembali memaknai perasaan dan hasrat di dalam dada. Toh selalu
saja ada yang berbeda antara isi otak dengan kenyataan.
Aku tidak mengerti apa yang di maksud resume kehidupan. Mungkin
ini adalah bagian dimana seseorang melabuhkan apa yang dia pikirkan, inginkan
dan rasakan. Seperti apa yang aku tulis. Aku tidak begitu paham dengan
referensi kebenaran. Karena aku hanya terbiasa menulis dengan cara yang seperti
ini. Aku sudah tidak peduli lagi. Ketika aku mulai menulis aku hanya ingin lupa
segalanya dan menfokuskan segenap jiwaku pada lahan kata-kata. Menelantarkan keadaan yang aku jalani untuk
merangkai paragraph demi paragraph angan.
Sekali lagi aku tidak pernah merasa special, aku sangat
biasa. Berkhayal menjadi orang yang special itu seperti utopia. Pada perjalanannya
aku biasa di abaikan dan terabaikan. Entah oleh apa mungkin oleh harapanku
sendiri. Memalukan dan sedikit memuakkan sih memang. Tapi yasudahlah. Seiring
getaran gelombang garis kehidupan. Aku
mencoba untuk belajar bersabar dan
menjadi pribadi yang ikhlas .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar