Senin, 30 September 2013
Dihempas Kecewa
Setidaknya
aku pernah beberapa kali menenggak perasaan kecewa. Perasaan yang akhirnya
mengubah pandangan hidupku. Mengalihkan sudut pemikiran dan kepekaan hati.
Sebuah
kecewa sehingga aku mengimani sebuah pepatah yang berujar "jangan terlalu
menyukai sesuatu karena bisa saja suatu hari nanti kau membencinya. Dan jangan
terlalu membenci sesuatu karena bisa saja suatu hari nanti engkau
menyukainya." Aku pernah membenci sesuatu karena aku terlalu menyukainya.
Kebencian yang di awali oleh rasa kecewa yang mendalam. Dan ketika seseorang di
kecewakan. Itu bukan hanya bisa mengubah emosinya, perasaanya, tapi bahkan juga
hidupnya.
Hidupku
berubah, tak ada yang sama lagi semenjak aku kecewa. Apapun yang aku lihat
semuanya sama. Karena dalam alam bawah sadarku telah lahir opini dan presepsi
baru.Karena tidak ingin kecewa untuk yang kesekian kalinya. Lebih baik menutup
mata. Dan berjalan sesuai fokus pribadi saja. Menjalani hidup tanpa perasaan.
Maksudnya, aku tidak pernah merasa begitu bahagia ketika aku mendapatkan
sesuatu. Akupun tidak pernah merasa begitu sedih ketika aku kehilangan sesuatu.
Aku bersikap wajar. Tentang apa yang aku alami. tidak ada yang bisa mengubah
perasaanku, benar-benar biasa saja. Karena takut ketika aku terlalu bahagia.
Suatu hari nanti aku akan terlalu sedih.
Memangsih
pada akhirnya aku jarang tertawa karena aku bahagia. Atau aku menangis karena
aku sedih. Saat berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Aku memang tertawa, hanya
senang bukan bahagia. Tertawa untuk mengekspresikan kalau aku terhibur. Saat
bisa berkumpul dengan mereka. Tertawa saat aku kehilangan momen kesepian.
Karena ada seseorang yang antusias mendengarkan ceritaku. Tertawa saat aku tahu
aku tidak sendiri. Teman-temanku adalah sumber kenyamanan hidupku. Tapi sekali
lagi itu hanya senang, bahagia tidak seperti itu. Kemanapun aku pergi, barang
apapun yang aku beli. Aku biasa saja.Aku juga lupa kapan terakhir kali aku
menangis. Itu sudah lama rasanya. Ingin menangis lagi. Tapi aku tidak tahu
alasan apa yang bisa ku pergunakan untuk menangis. Kadang hanya perasaan sedih
saja yang muncul saat menyikapi kerasnya kehidupan.Antara perasaan bahagia dan
sedih itu seperti tidak ada. Oke, aku memang menikmati hidup. Aku berpikiran
damai, berpositive thinking, memiliki impian, punya kesibukan. Tapi hati sih
sudah terbiasa hampa. Sebenarnya ini sudah sangat lama. Ini sudah terlalu lama.
Dan entah akan berapa lama lagi?! Aku tidak tahu. Aku merasa baik-baik saja.
Tapi hidup tanpa perasaan itu terasa kurang berwarna. Bukankah manusia terbiasa
melewati masa bahagianya? Bukankah manusia juga terbiasa melewati masa
sedihnya? Dan aku tidak memilih keduanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar