26/07/2014
Entah apa namanya ini, entah
bagaimana semuanya harus diakhiri. Ketika seribu macam renungpun tak mampu
menyudahinya dan ribuan retorika juga tak berkutik menghadapi keputusan yang
egois ini. aku menemukan semuanya. Namun dalam kesemuanya tak ada yang mampu
membuatku merasa pasti. Jika kepastian itu memang ada, hal itu tidak pernah
berlangsung lama. Ketenangan itu hanya sekejap lalu menghilang. aku tidak tahu
bagaimana cara orang menikmati hidup mereka secara terus menerus. Aku menikmati
hidupku, tentu saja. Aku bahagia, aku juga sedih. Dan hal yang sama adalah
alasan yang sama bagi kesenanganku atau kenestapaan. Sehingga aku tidak bisa
membedakan lagi hal apa yang membuatku gembira ataupun sedih. karena semuanya
sama.
Orang bilang aku itu sedang
merasa jenuh dengan kadaritas dan keproduktifitasan diriku dalam mengarungi
lembah hidup. Orang bilang aku hanya bosan dan membutuhkan setitik pencerahan
yang mampu mengobati luka kegusaranku. Tapi jika ini jenuh, jika ini bosan
tentu tak menunggu lama. Seharusnya dalam sebuah kedinamisan semuanya patut
sirna. Tapi tentang yang ini sepertinya aku ingin kehabisan kata-kata saja.
Bukan putus asa, tapi mungkin memang tidak punya diksi lain selaian putus asa.
Semakin aku mencari sumber dari segala sumber ketidakpastianku dan mulai
berargumen dengan apa yang aku rasakan. Semua orang semakin menjustifikasi
kalau aku bodoh dan aneh. Dan semakin lama aku semakin sadar apa yang aku
pikirkan dan apa yang ingin aku pecahkan berbeda dari orang kebanyakan. Atau aku
saja yang terlalu berlebihan dalam menafsirkan perasaaan. Memang sulit kalau
hidup menggunakan perasaan dan aku begitu sulit melepaskan diriku dari jerat
perasaan ini. padahal sejak dari dulu aku ingin membunuh perasaanku. Bahkan
teori-teori kehidupan mengenai problematika perasaan sudah coba kuterapkan,
tapi gagal. Apa aku begitu lemah ya? ah manusia yang terlalu menggunakan
perasaan. Mengapa aku terlalu berperasaansih? Muak aku marah pada perasaanku,
sudah lebih dari berulang kali aku marah-marah pada perasaan.
Lama aku terdiam, berharap bisa memecahkan
kebuntuan yang aku pikirkan. lama aku berharap, sampai aku lupa karena tidak
pernah menemukannya. Kadang aku bertemu orang yang sepertinya baik.
mendengarkanku, mengutarakan pendapat mereka. tapi bagai dalam mimpi setelah
itu pergi, menghilang. mencapakkan harapanku begitu saja. Entah mengapa bisa
begitu. Mungkin mereka berpendapat aku terlalu mengkhawatirkan, bahkan hanya
untuk sekadar dikasihani. Atau aku terlalu egois dalam menyikapi pikiranku sendiri.
Hanya sedikit dari pernyataan mereka yang aku ingat, katanya aku aneh, egois,
keras, dan yang lebih parah katanya aku orang yang sakit. sakit pikiran,
begitu? Tapi setelah itu mereka pergi. padahal aku tak hanya butuh pendapat
mereka. tetapi aku juga butuh cara agar aku bisa waras. Atau? Apa lebih baik
menjadi orang gila saja? Bagus kalau bisa menjadi orang gila. Kalau ada caranya
patut dicoba. Tapi berkata tak semudah menegak air dalam kemasan. Masalah
perasaan dan pikiran bukan sebuah hal yang begitu sederhana. Atau aku yang
selalu mempersulit sesuatu? Aku mempersulitnya karena aku ingin berpikir. Kalau
semuanya begitu sederhana, lalu untuk apalagi aku punya otak?
Aku tidak tahu! Aku merasa
begitu kesepian saja, melihat siapapun yang ada didekatku tidak pernah sejalan
dengan apa yang aku pikirkan. selalu saja mengundang kontradiksi. Apa
pendapatku sebegitu buruknya? Orang yang disekitarku banyak tapi mereka
berbeda, tak mampu memahamkan diriku sendiri. Harusnya aku yang paling
bertanggug jawab atas diriku sendiri. tapi sekali lagi aku tidak tahu. Mengapa
aku begini? Kapan aku bisa menyelesaikan pertanyaan dan keraguan yang ada dalam
diriku sendiri. aku hanya ingin ada seseorang yang mengatakan kepadaku tentang
kebenaran. Apa aku harus serahkan saja semuanya sesuai dengan bunyi QS
Ali-Imran : 60 yang menyatakan bahwa kebenaran itu berasal dari Tuhan, oleh
karena itu tidak ada alasan lagi untuk ragu. Haruskah aku menyerah dan menjadi
hamba Tuhan yang baik? yang taat yang begitu fanatik bahkan menjadi sufi agar
benar-benar merasa suci? Atau aku berusaha mengikuti Nietzsche tentang
dekadensinya. Tentang bagaimana menhancurkan mental budak dan memaksimalkan
mental tuan yang ada di dalam diri sehingga punya daya berkendak lalu
menguasai. Atau yang seperti dekontruksinya Deridda? Menjadi manusia bebas yang
bertanggung jawab. Atau seperti seorang taoist, budhist atau semacam berpikir
orang stoa? Atauuu perlu menjadi atheist yang sebenar-benarnya atheist atau
cukup menjadi orang sekular yang pasti pluralist?
Aku pernah menjadi orang
fundamen lalu berubah menjadi orang yang begitu suka dengan teori dekadensi
atau dekontruksi, aku pernah menjauhkan diriku dari Tuhan. karena aku tidak
ingin ketergantungan. Aku bilang aku percaya Tuhan tapi tidak sudi menjalankan
syariat Tuhan. tentang hidupuku, biar aku sendiri yang mengurusinya. Biarkan
aku menjadi manusia yang paling egois. Karena aku adalah manusia yang bebas dan
merdeka. Tidak ada yang bisa mengatur diriku kecuali aku sendiri. orang lain
tidak perlu ikut campur atau berargumen tentang apa yang harus aku lakukan.
Karena hanya akulah yang paling paham apa yang aku inginkan dan apa yang
membuatku bahagia. Tapi semakin lama aku mencoba membuat manusia-manusia lain
tak berarti semakin lama pula aku merasa aku semakin ketergantungan. Aku
berusaha berbeda tapi dengan perbedaan aku semakin tersingkirkan dan
terasingkan dari rasa kedamaian. Terus kesepian dan bergelut dengan
pikiran-pikiran bodoh yang tak berkualitas. Aku bisa berkata dengan sangat
percaya diri padahal saat itu aku bisa menjadi orang yang sangat tidak percaya
diri. Aku tidak mengerti mengapa aku begini. Tapi jika aku menarik kesimpulan,
sampai hari ini aku adalah orang yang samar-samar. Aku memikirkan semuanya,
tapi tak ada satupun yang berusaha aku dedikasikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar