Jumat, 06 Juni 2014

haruskah kita percaya ketika tidak ada satu halpun yang bisa kita percayai?


Kali ini aku telah kehabisan cara untuk meyakinkan diriku sendiri. Orang bilang kepercayaan adalah obat peragu. Namun bagiku keraguan itu lebih mulia ketimbang percaya. Kerasnya hati yang konsisten lebih baik ketimbang kemunafikan yang dibudidayakan. Manusia boleh berpenampilan, beretorika atau berliterasi dengan berbagai macam kehasratannya. Namun intinya busuk juga. Sulit memang menerima kenyataan hidup bahwa semuanya BUSUK dan MENJIJIKAN.

BUSUK!

Aku kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan masalah emosi dan amarah yang menggelegak dalam kontradiksi pikiranku. Jika ada hal yang harus aku benci itu adalah perasaanku. Jika ada hal yang harus aku cintai itu adalah dirikusendiri. Jika ada yang harus aku salahkan adalah masalah kepercayaan yang sempat aku punya. Jika ada hal yang harus aku pegang teguh adalah keegoisanku sendiri. Untuk apa berubah? Jika kita sudah puas dengan diri sendiri. Perubahan hanya untuk orang-orang kebingungan dan gelisah. Aku sama sekali tidak gelisah! Aku bisa menjadi diriku sendiri dan aku manusia bebas. Bebas menebarkan eksistensi dan menilai dunia dengan caraku sendiri. Aku tidak percaya pada siapapun lagi, terkecuali pada diriku sendiri.
Kita memang harus egois untuk menjadi kita yang sepenuhnya. Ada yang salah dalam kerangka berpikirku akhir-akhir ini. dan ini gara-gara kesalahan menempatkan perasaan.  Ah seandainya aku tidak punya perasan -____-

Aku sedikit patah hati malam ini. tapi aku tahu besokpun aku sudah lupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar