Oleh Tiwi Cassavela
Patriotisme,nasionalisme dan kaum-kaum
fundamentalis seakan menjadi chauvisinis. Perang-perang . .perang atas dasar
dogmatisme tak berkelas. Apa yang di perjuangkan keyakinankah?
“perang lagi perang lagi? coba kalau ngalah
selesai kan urusan?”
Rico
lelah bicara masalah otak dan perasaan yang penting bagi hidupnya adalah
kebahagiaan. Jika sudah bahagia, tak usah digdaya dan kayapun sudah cukup
baginya. Kehidupan ini ia rasa tak pantas untuk dijalani. Mau menjalani apa?
Jadi orang kaya yang ada hanya bertransformasi menjadi orang kapitalis,
penindas. tidak ada yang namaya kaum idealist. Birokrat di tanah inipun paling
tidak menghimpun kekayaan. Orang baik yang mencoba masuk ke lingkungan baik
malah yang ada ikut-ikutan tidak baik. seperti hanya air mineral yang hanya
segelas dimasukan kedalam comberan, pasti akan menyatu dengan comberan.
“Rakyat dimuka bumi ini sudah banyak yang
menderita, rasanya aku perlu untuk duduk di kursi DPR.” Ucap Ayahnya dulu,
ketika Rico bertanya mengapa harus menjadi politikus? Harta dan kekayaan
ayahnya kerahkan. Dan ia tahu seorang politikus partisan seperti ayahnya akan
lupa. Gila harta, entah kenapa ayahnya
semakin kaya dengan mudahnya hingga akhirnya pada 9 April lalu foto ayahnya tertampang
di kertas surat suara. Rico tahu ia hanya mampu terhenyak.
Dulu Ia pikir jadi orang kaya itu nikmat
bisa beli ini dan bisa beli itu. tapi setelah ia pikirkan orang kaya itu immoral,
kekayaan semakin membutakan. Sampai kiamatpun manusia tidak akan pernah puas.
“Ric, mending jadi orang miskin. Biar nggak
terlalu banyak dosa.” Jadi orang miskin? rasanya juga bukan sebuah fenomena
yang layak untuk diikuti. Susahnya mencapai hidup.
Rico keluar dari rumahnya menahan rasa
sumpek dalam pikirannya mengenai realitas kehidupan yang menyesakkan. Kenapa di
muka bumi ini tiak pernah ada sesuatu yang seimbang? Dimana tidak perlu ada
stratifikasi sosial, diferensiasi sosial atau hal-hal lainnya yang menyebabkan
dilema? Kenapa Tuhan tidak menciptakan semuanya sama dalam kesatuan yang
berjalan seperti air mengalir tanpa dusta tanpa malapetaka.
Diantara kesumpekkan-kesumpekkan relung
hatinya Rico berjalan perlahan, lemah tanpa selera. Untuk apa ia hidup? Sepertinya
menjadi orang mati lebih baik, terbebas dari segala hal. lagi pula kalau ia mau
terus hidup apa yang musti ia perjuangkan? Apa yang ia ingikan? Tidak ada.
Menjadi orang miskin atau kaya sama saja. Mau menjadi orang tak berkeyakinan
atau sangat berkeyakinan juga sama saja. Yang ada hanya kemuakan-kemukan yang
terus terjadi seperti siklus. Di ajaran Agama bilang bahwa semuanya berjalan sesuai
takdir. Lalu jika segala hal sudah ditakdirkan? Untuk apa ia berjuang lagi? toh
semuanya sudah di takdirkan kan? manusia hanya hidup dan menunggu mati. Semau
fana, lebih baik hidup tanpa berperasaan, Rico sudah semakin berputus asa.
Hingga tiba-tiba sesosok Lelaki tua duduk disampingnya melirik ke arah Rico
yang pandangannya tertunduk tanpa ekspresi. Hanya helaan nafasnya yang terus
terdengar gelisah, marah dan penuh emosi. Entah ia harus kecewa atau mengutuk
siapa? Tuhan-kah?
“Apa yang kau risaukan?” Tanya si kakek
hati-hati.
“Perang, orang-orang kaya yang serakah dan
orang miskin yang melarat.”
“Lalu ada apa dengan mereka? mengapa harus
risau dan marah? Apa kenyataan hidup telah membuatmu sakit hati?”
“Aku kesal kepada Tuhan, karena kenyataan
hidup bikinan Tuhan.”
“Yang seharusnya kau salahkan adalah
perasaanmu. Kesal itu awal mulanya dai perasaan. Kalau kau tidak ingin kesal
lagi, janganlah jadi manusia yang punya perasaan.”
“Tapi perasaan juga berasal dari Tuhan kan?
Aku mengutuk semuanya yag berasal dari Tuhan.”
“Orang-orang pecundang selalu mencari
kambing hitam, hanya mengutuk, berputus asa dan menyalahkan. Tapi orang-orang
bajik selalu mencari solusi dari setiap persoalan. Orang-orang bajik tidak akan
terus mengkungkung dirinya dalam kesedihan. Tapi selalu bertanya apa yang bisa
ia lakukan? Dan ia berbuat.”
“Tapi?!”
“Jika tidak ada konflik, peguasa dan yang
dikuasai, bukan dunia namanya tapi surga. Kesemrawutan hidup yang kau utarakan
hanya persepsimu sendiri. Mungkin orang lain hidup yang menarik dan memuaskan
adalah hidup yang terus dirongrong oleh pertikaian.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Jadilah orang yang baik. itu sudah lebih
dari cukup. Ketika kau menjadi orang yang baik kau akan memahami Tuhan dan kau
akan mengerti mengapa semua ini terjadi.” Ucap sang kakek dan tidak lama sang
kakek beranjak dari bangku yang tengah didudukinya dan berjalan. Rico hanya
mampu terdiam, menatap sang kakek yang kian lama kian menghilang, hingga entah
ia ada dimana sekarang. Rico kembali menghirup nafasnya panjang. dilihatnya
jalanan yang kian ramai. Mobil-mobil mewah yang berseliweran atau para
pedangang yang lewat menjajakkan dagannya.
“Bang rokoknya satu!” Ucap Rico sambil
memberhentikan seornag pedangan asongan dan
tak lama kemudian ia rasak sensasi rokok yang menyelubungi
kekrongkongannya hingga ke paru-paru. . . ia terhenyak lagi. ia tahu, semuanya
masih belum selesai. Atau tak akan pernah selesai?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar