Senin, 02 Juni 2014

Yang Tak Selesai

Oleh Tiwi Cassavela

Patriotisme,nasionalisme dan kaum-kaum fundamentalis seakan menjadi chauvisinis. Perang-perang . .perang atas dasar dogmatisme tak berkelas. Apa yang di perjuangkan keyakinankah?
“perang lagi perang lagi? coba kalau ngalah selesai kan urusan?”
 Rico lelah bicara masalah otak dan perasaan yang penting bagi hidupnya adalah kebahagiaan. Jika sudah bahagia, tak usah digdaya dan kayapun sudah cukup baginya. Kehidupan ini ia rasa tak pantas untuk dijalani. Mau menjalani apa? Jadi orang kaya yang ada hanya bertransformasi menjadi orang kapitalis, penindas. tidak ada yang namaya kaum idealist. Birokrat di tanah inipun paling tidak menghimpun kekayaan. Orang baik yang mencoba masuk ke lingkungan baik malah yang ada ikut-ikutan tidak baik. seperti hanya air mineral yang hanya segelas dimasukan kedalam comberan, pasti akan menyatu dengan comberan.
“Rakyat dimuka bumi ini sudah banyak yang menderita, rasanya aku perlu untuk duduk di kursi DPR.” Ucap Ayahnya dulu, ketika Rico bertanya mengapa harus menjadi politikus? Harta dan kekayaan ayahnya kerahkan. Dan ia tahu seorang politikus partisan seperti ayahnya akan lupa.  Gila harta, entah kenapa ayahnya semakin kaya dengan mudahnya hingga akhirnya pada 9 April lalu foto ayahnya tertampang di kertas surat suara. Rico tahu ia hanya mampu terhenyak.
Dulu Ia pikir jadi orang kaya itu nikmat bisa beli ini dan bisa beli itu. tapi setelah ia pikirkan orang kaya itu immoral, kekayaan semakin membutakan. Sampai kiamatpun manusia tidak akan pernah puas.
“Ric, mending jadi orang miskin. Biar nggak terlalu banyak dosa.” Jadi orang miskin? rasanya juga bukan sebuah fenomena yang layak untuk diikuti. Susahnya mencapai hidup.
Rico keluar dari rumahnya menahan rasa sumpek dalam pikirannya mengenai realitas kehidupan yang menyesakkan. Kenapa di muka bumi ini tiak pernah ada sesuatu yang seimbang? Dimana tidak perlu ada stratifikasi sosial, diferensiasi sosial atau hal-hal lainnya yang menyebabkan dilema? Kenapa Tuhan tidak menciptakan semuanya sama dalam kesatuan yang berjalan seperti air mengalir tanpa dusta tanpa malapetaka.
Diantara kesumpekkan-kesumpekkan relung hatinya Rico berjalan perlahan, lemah tanpa selera. Untuk apa ia hidup? Sepertinya menjadi orang mati lebih baik, terbebas dari segala hal. lagi pula kalau ia mau terus hidup apa yang musti ia perjuangkan? Apa yang ia ingikan? Tidak ada. Menjadi orang miskin atau kaya sama saja. Mau menjadi orang tak berkeyakinan atau sangat berkeyakinan juga sama saja. Yang ada hanya kemuakan-kemukan yang terus terjadi seperti siklus. Di ajaran Agama bilang bahwa semuanya berjalan sesuai takdir. Lalu jika segala hal sudah ditakdirkan? Untuk apa ia berjuang lagi? toh semuanya sudah di takdirkan kan? manusia hanya hidup dan menunggu mati. Semau fana, lebih baik hidup tanpa berperasaan, Rico sudah semakin berputus asa. Hingga tiba-tiba sesosok Lelaki tua duduk disampingnya melirik ke arah Rico yang pandangannya tertunduk tanpa ekspresi. Hanya helaan nafasnya yang terus terdengar gelisah, marah dan penuh emosi. Entah ia harus kecewa atau mengutuk siapa? Tuhan-kah?
“Apa yang kau risaukan?” Tanya si kakek hati-hati.
“Perang, orang-orang kaya yang serakah dan orang miskin yang melarat.”
“Lalu ada apa dengan mereka? mengapa harus risau dan marah? Apa kenyataan hidup telah membuatmu sakit hati?”
“Aku kesal kepada Tuhan, karena kenyataan hidup bikinan Tuhan.”
“Yang seharusnya kau salahkan adalah perasaanmu. Kesal itu awal mulanya dai perasaan. Kalau kau tidak ingin kesal lagi, janganlah jadi manusia yang punya perasaan.”
“Tapi perasaan juga berasal dari Tuhan kan? Aku mengutuk semuanya yag berasal dari Tuhan.”
“Orang-orang pecundang selalu mencari kambing hitam, hanya mengutuk, berputus asa dan menyalahkan. Tapi orang-orang bajik selalu mencari solusi dari setiap persoalan. Orang-orang bajik tidak akan terus mengkungkung dirinya dalam kesedihan. Tapi selalu bertanya apa yang bisa ia lakukan? Dan ia berbuat.”
“Tapi?!”
“Jika tidak ada konflik, peguasa dan yang dikuasai, bukan dunia namanya tapi surga. Kesemrawutan hidup yang kau utarakan hanya persepsimu sendiri. Mungkin orang lain hidup yang menarik dan memuaskan adalah hidup yang terus dirongrong oleh pertikaian.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?”
“Jadilah orang yang baik. itu sudah lebih dari cukup. Ketika kau menjadi orang yang baik kau akan memahami Tuhan dan kau akan mengerti mengapa semua ini terjadi.” Ucap sang kakek dan tidak lama sang kakek beranjak dari bangku yang tengah didudukinya dan berjalan. Rico hanya mampu terdiam, menatap sang kakek yang kian lama kian menghilang, hingga entah ia ada dimana sekarang. Rico kembali menghirup nafasnya panjang. dilihatnya jalanan yang kian ramai. Mobil-mobil mewah yang berseliweran atau para pedangang yang lewat menjajakkan dagannya.

“Bang rokoknya satu!” Ucap Rico sambil memberhentikan seornag pedangan asongan dan  tak lama kemudian ia rasak sensasi rokok yang menyelubungi kekrongkongannya hingga ke paru-paru. . . ia terhenyak lagi. ia tahu, semuanya masih belum selesai. Atau tak akan pernah selesai?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar