Oleh Tiwi Cassavela
Mahasiswa dan pemikiran adalah
sebuah simbiosa yang tak bisa dipisahkan. Mahasiswa selalu identik dengan
pemikiran. Karena mahasiswalah yang selama ini bergulat dengan berbagai literature
ilmu pengetahuan yang nantinya akan digunakan sebagai pembangun bangsa.
Merekalah yang akhirnya menduduki pemerintahan dan menjadi nakhoda di lautan
problematika negara. untuk membawanya kepada
pulau kesejahtraan. Sayangnya saat ini seolah mahasiswa kurang memiliki nilai
pemikiran yang mendetail dan penuh gagasan inovatif.
Saat ini mahasiswa banyak yang
berpikir general tidak terstruktur dan dan berorientasi kedepan. bukan berarti
mengecilkan realitas pencapaian yang ada. Tapi kita dapat melihat bahwa
dinamika pemikiran yang tidak membawa
pada pencapaian membuat kita terus
terbawa galau. Disinilah perlu ada rekontruksi, bukan hanya luarnya saja
tapi lebih dari itu, ke definisi hingga pemahamannya tidak dangkal tapi
menglobal.
Jika menyelidiki lebih mendetail,
saat ini budaya mahasiswa adalah budaya pop, nilai modernisme yang serba
instant membuat daya juang berkurang. Adanya tekhnologi lebih berfungsi sebagai
penghibur diri. Saat ini di waktu luangya banyak mahasiswa yang menyibukan
aktifitasnya dengan jenjaring sosial. Bukan mengsearching sesuatu yang
bermanfaat. Mungkin ada banyak yang sering mencari berbagai referensi tapi
tidak sebanding dengan yang prioritasnya untuk menghibur diri.
Mahasiswa sekarang lebih banyak
berorientasi pada pribadinya. bagaimana mereka bisa mendapatkan IPK tinggi,
bagaimana mereka bisa cepat lulus dan bagaimana mereka bisa segera bekerja.
tidak ada pemikiran yang lebih meluas untuk membangun bangsa. Nasionalismenya
kurang, kreatifitas dan karyanyapun kurang. Dan yang menjadi pertanyaan apa
yang seharusnya mahasiswa lakukan untuk membangun bangsa?
Solusinya adalah dengan
merekontruksi pemikiran mahasiswa Indonesia. Sejak neoliberalisme berkuasa
dengan seluruh sistempun hingga pendidikan banyak yang dipengaruhi oleh asing.
Kita dibentuk untuk menjadi seorang pekerja ketimbang pencipta. Saat ini
mahasiswa Indonesia kebanyakan hanya mengikuti kemana aliran zaman mengalir.
Mereka terlalu asyik dan terlena dengan gadged yang terus berkembang dan
melupakan kondisi bangsa. Yang bermain adalah logika hasrat bukan logika kebutuhan.
Modernisme lahir disaat budaya
tulisan dan budaya membaca kita belum mapan. Rakyat Indonesia ini masih budaya
tutur. Tidak ada filterasi. Dan yang bermain adalah logika tanda bukan logika
makna.
Saat ini nilai-nilai kebanggan
terhadap jati bangsa pun memudar. Banyak mahasiswa yang bangga ketika ia
menggunakan handphone terkenal milik buatan luar negeri atau bangga ketika ia
menggunakan mobil mewah. sedangkan di negara yag sudah lebih maju, mereka bukan
bangga ketika menggunkan produk berkelas. Mereka akan bangga ketika mereka bisa
menggunakan ciptaan hasil mereka sendiri.
Sebenarnya di Indonesia sendiri
sudah banyak mahasiswa dan pelajar yang berotak jenius. Kita tilik tokoh
terkeanl Indonesia BJ Habiebie dulu ia bisa mencipta pesawat dan sukses. Namun karena
desakan dunia Internasional akhirya di gagalkan. Kita ini butuh pemimpin yang
berani. Dan menghargai jasa para pencipta dan
bangsanya sendiri. Jangan sampai perkataan Pramoedya Ananta Toer itu
menjadi nyata bahwa Bangsa Indonesia ini merupakan budak bagi orang lain dan
budak bagi bangsanya sendiri.
Jika melihat fenomena diatas
masihkan ungkapan bung Karno beberapa dekade kebelakang yang berujar.”berikan
aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia.” Masih relevan dengan realitas
yang ada? Sepertinya tidak.
Saat ini media sudah tidak bisa
di harapkan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggipun tidak bisa
diharapkan lagi. maka salah satu-satunya harapan adalah mahasiswa. Dan
mahasiswa yangseyogiannya mampu diandalkan. Bukan malah semakin menambah beban
dan derita. Mahasiswa yang seharusnya
memang bergiat dan menyublimasi hidup mereka dengan literasi dengan kajian yang
tak pernah mati.
Literasi dan kajian adalah dua
hal yang tidak hanya perlu di degung-degungkan tapi juga diimplementasikan.
Jangan terlalu banyak menghibur diri dengan gadged untuk sesuatu yang tidak
membangun. Tapi gunakan untuk melihat realitas, bagaimana terlalu banyak PR
yang seharusnya kita lakukan. Saat ini kita
memang nyaman padahal banyak yang harus diselesaikan. Bacalah fenomena
dimuka bumi ini. pikirkan, jangan hanya melihat dan lupa. Tapi kaji. Dengan
kajian itu ghirah tumbuh. Karena yangs saat ini dibutuhkan adalah ghairah.
Indonesia perlu seseorang yang komitmen dengan “nasionalisme”.
Muhammad Sobari berujar bahwa Indonesia sedang
dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Tidak ada ilmuan yang terlahir.
Berhenti berpikir dan tidak mau melihat sesuatu yang besar. Mau sampai kapan
musim kemarau ini akan terus berlangsung? sampai semuanya semakin kacau dan
rusuh sehingga tidak ada ruang untuk bernafas lagikah? Pikirkan!
Dari kajian Jum’at
14 Maret 2013
bagus...
BalasHapus