Rabu, 02 April 2014

MENELAAH POLA PIKIR MAHASISWA KEKINIAN

Oleh Tiwi Cassavela

Mahasiswa dan pemikiran adalah sebuah simbiosa yang tak bisa dipisahkan. Mahasiswa selalu identik dengan pemikiran. Karena mahasiswalah yang selama ini bergulat dengan berbagai literature ilmu pengetahuan yang nantinya akan digunakan sebagai pembangun bangsa. Merekalah yang akhirnya menduduki pemerintahan dan menjadi nakhoda di lautan problematika  negara. untuk membawanya kepada pulau kesejahtraan. Sayangnya saat ini seolah mahasiswa kurang memiliki nilai pemikiran yang mendetail dan penuh gagasan inovatif. 
Saat ini mahasiswa banyak yang berpikir general tidak terstruktur dan dan berorientasi kedepan. bukan berarti mengecilkan realitas pencapaian yang ada. Tapi kita dapat melihat bahwa dinamika pemikiran yang  tidak membawa pada pencapaian membuat kita terus  terbawa galau. Disinilah perlu ada rekontruksi, bukan hanya luarnya saja tapi lebih dari itu, ke definisi hingga pemahamannya tidak dangkal tapi menglobal.
Jika menyelidiki lebih mendetail, saat ini budaya mahasiswa adalah budaya pop, nilai modernisme yang serba instant membuat daya juang berkurang. Adanya tekhnologi lebih berfungsi sebagai penghibur diri. Saat ini di waktu luangya banyak mahasiswa yang menyibukan aktifitasnya dengan jenjaring sosial. Bukan mengsearching sesuatu yang bermanfaat. Mungkin ada banyak yang sering mencari berbagai referensi tapi tidak sebanding dengan yang prioritasnya untuk menghibur diri.
Mahasiswa sekarang lebih banyak berorientasi pada pribadinya. bagaimana mereka bisa mendapatkan IPK tinggi, bagaimana mereka bisa cepat lulus dan bagaimana mereka bisa segera bekerja. tidak ada pemikiran yang lebih meluas untuk membangun bangsa. Nasionalismenya kurang, kreatifitas dan karyanyapun kurang. Dan yang menjadi pertanyaan apa yang seharusnya mahasiswa lakukan untuk membangun bangsa?
Solusinya adalah dengan merekontruksi pemikiran mahasiswa Indonesia. Sejak neoliberalisme berkuasa dengan seluruh sistempun hingga pendidikan banyak yang dipengaruhi oleh asing. Kita dibentuk untuk menjadi seorang pekerja ketimbang pencipta. Saat ini mahasiswa Indonesia kebanyakan hanya mengikuti kemana aliran zaman mengalir. Mereka terlalu asyik dan terlena dengan gadged yang terus berkembang dan melupakan kondisi bangsa. Yang bermain adalah logika hasrat bukan logika kebutuhan.
Modernisme lahir disaat budaya tulisan dan budaya membaca kita belum mapan. Rakyat Indonesia ini masih budaya tutur. Tidak ada filterasi. Dan yang bermain adalah logika tanda bukan logika makna.
Saat ini nilai-nilai kebanggan terhadap jati bangsa pun memudar. Banyak mahasiswa yang bangga ketika ia menggunakan handphone terkenal milik buatan luar negeri atau bangga ketika ia menggunakan mobil mewah. sedangkan di negara yag sudah lebih maju, mereka bukan bangga ketika menggunkan produk berkelas. Mereka akan bangga ketika mereka bisa menggunakan ciptaan hasil mereka sendiri.
Sebenarnya di Indonesia sendiri sudah banyak mahasiswa dan pelajar yang berotak jenius. Kita tilik tokoh terkeanl Indonesia BJ Habiebie dulu ia bisa mencipta pesawat dan sukses. Namun karena desakan dunia Internasional akhirya di gagalkan. Kita ini butuh pemimpin yang berani. Dan menghargai jasa para pencipta dan  bangsanya sendiri. Jangan sampai perkataan Pramoedya Ananta Toer itu menjadi nyata bahwa Bangsa Indonesia ini merupakan budak bagi orang lain dan budak bagi bangsanya sendiri.
Jika melihat fenomena diatas masihkan ungkapan bung Karno beberapa dekade kebelakang yang berujar.”berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncangkan dunia.” Masih relevan dengan realitas yang ada? Sepertinya tidak.
Saat ini media sudah tidak bisa di harapkan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tertinggipun tidak bisa diharapkan lagi. maka salah satu-satunya harapan adalah mahasiswa. Dan mahasiswa yangseyogiannya mampu diandalkan. Bukan malah semakin menambah beban dan derita.  Mahasiswa yang seharusnya memang bergiat dan menyublimasi hidup mereka dengan literasi dengan kajian yang tak pernah mati.
Literasi dan kajian adalah dua hal yang tidak hanya perlu di degung-degungkan tapi juga diimplementasikan. Jangan terlalu banyak menghibur diri dengan gadged untuk sesuatu yang tidak membangun. Tapi gunakan untuk melihat realitas, bagaimana terlalu banyak PR yang seharusnya kita lakukan. Saat ini kita  memang nyaman padahal banyak yang harus diselesaikan. Bacalah fenomena dimuka bumi ini. pikirkan, jangan hanya melihat dan lupa. Tapi kaji. Dengan kajian itu ghirah tumbuh. Karena yangs saat ini dibutuhkan adalah ghairah. Indonesia perlu seseorang yang komitmen dengan “nasionalisme”. 


 Muhammad Sobari berujar bahwa Indonesia sedang dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Tidak ada ilmuan yang terlahir. Berhenti berpikir dan tidak mau melihat sesuatu yang besar. Mau sampai kapan musim kemarau ini akan terus berlangsung? sampai semuanya semakin kacau dan rusuh sehingga tidak ada ruang untuk bernafas lagikah? Pikirkan!

Dari kajian Jum’at 14 Maret 2013

1 komentar: