2 December 2014
08:54 Am
Ada yang mesayat-sayat relung
bathinku, dan itu adalah perasaan rindu. Berkali-kali kukatakan kepada diriku
“Ah ini hanya emosi sambil lalu. Yang akan datang sesekali kemudian pergi.”tapi
sepertinya aku tersalah atas persepsiku ini.pada realitasnya kini sayatan-sayatan
itu semakin dalam dan menyakitkan.
Karena nyatanya, kerinduan itu semakin tajam. Sehingga semakin tajam dan terpahat sebuah kepastian disana ;”Rindu” pahatan yang tak bisa sirna meski ia diperban oleh kejadian-kejadian di masa depan. Meski dijahit oleh kenangan-kenangan yang lebih manis.
Semuanya, apapun yang terjadi, kerinduan ini terasa pahit. Sebuah kepahitan yang tidak mampu dilepaskan. Pahit yang akan selalu melekat pada dinding-dinding kehidupan. Sejauh apapun masa berganti, dan keadaan bermetamorfosis. Kerinduan ini tetaplah sama. Kadang aku bimbang dan bertanya “Sebenarnya siapa yang bersalah? Aku yang tidak bisa melepaskan kerinduan ini? Atau rindu yang bersikukuh ingin tenggelam di dalam sanubariku?” lalu aku hanya menggeleng dan terdiam. Diam, adalah bahasa ketidakmampuanku mengatasi perasaan.
Karena nyatanya, kerinduan itu semakin tajam. Sehingga semakin tajam dan terpahat sebuah kepastian disana ;”Rindu” pahatan yang tak bisa sirna meski ia diperban oleh kejadian-kejadian di masa depan. Meski dijahit oleh kenangan-kenangan yang lebih manis.
Semuanya, apapun yang terjadi, kerinduan ini terasa pahit. Sebuah kepahitan yang tidak mampu dilepaskan. Pahit yang akan selalu melekat pada dinding-dinding kehidupan. Sejauh apapun masa berganti, dan keadaan bermetamorfosis. Kerinduan ini tetaplah sama. Kadang aku bimbang dan bertanya “Sebenarnya siapa yang bersalah? Aku yang tidak bisa melepaskan kerinduan ini? Atau rindu yang bersikukuh ingin tenggelam di dalam sanubariku?” lalu aku hanya menggeleng dan terdiam. Diam, adalah bahasa ketidakmampuanku mengatasi perasaan.
Dalam diam yang panjang, aku
mencari tahu asal muasal kerinduan ini semuanya berawal dari kejadian itu.
Awalnya bagaikan guliran tempo kehidupan yang tidak terlalu berarti.
Sebagaimana hidup biasanya, tidak ada yang terlalu menggugah hati. Aku bertemu
orang baru, mengenal hal baru. Bergumul degan perasaan dan pikira yanag baru.
Kebaruan yang tidak istimewa, karena setiap saat kebaruan itu selalu muncul.
Dan kapapnpun selalu baru, semuanya baru.
Hari berganti, yang baru itupun ada
lagi, agak sedikit istimewa memang. Lalu keistimewaaan-keistimewaan itu mulai
berubah. Menjadi baru yang membosankan. Berganti menjadi baru yang lain. Baru
yang hambar, baru-baru yang membuatku merindukan sesuatu yang tidak baru.
Lalu hatiku berbisik “apakah ini hanya sebuah gengsi dari sebuah keberkelitan yang sebenarnya tidak penting?” aku tidak tahu, yang aku tahu aku rindu, cukup itu saja. Tanpa aku harus berpikir lebih waras tentang apa yang sebenarnya aku rindukan. Kemana pada akhirnya rindu ini akan selesai. Karena sesuatu yang tidak selesai akan menjadi pekerjaan rumah yang membebani pikiran.
Lalu hatiku berbisik “apakah ini hanya sebuah gengsi dari sebuah keberkelitan yang sebenarnya tidak penting?” aku tidak tahu, yang aku tahu aku rindu, cukup itu saja. Tanpa aku harus berpikir lebih waras tentang apa yang sebenarnya aku rindukan. Kemana pada akhirnya rindu ini akan selesai. Karena sesuatu yang tidak selesai akan menjadi pekerjaan rumah yang membebani pikiran.
Tapi aku mencoba berdamai denganya,
tentang perasaan rindu ini biarkan ia bersemayam di dalam hatiku. Dengan entah
yang seberapa lama ia inginkan. Dengan dalam yang seberapa mamppu ia torehkan.
Dan dengan pahit yang seberaoa banyak ia berikan.
Apapun yang rindu kehendaki, aku akan mencoba bersabar. Karena kadang rindu ini menjadi pengingat bahwa aku masih manusia yang bisa brharap dan mendamba sesuatu. Agar aku tidak lupa, aku masih punya perasaan yang tidak bisa dibunuh oleh konstruk apapun. Perasaan yang akan hidup selama aku hidup. Kalau aku mati perasaan itu akan mati, dan rindu itupun sirna.
Apapun yang rindu kehendaki, aku akan mencoba bersabar. Karena kadang rindu ini menjadi pengingat bahwa aku masih manusia yang bisa brharap dan mendamba sesuatu. Agar aku tidak lupa, aku masih punya perasaan yang tidak bisa dibunuh oleh konstruk apapun. Perasaan yang akan hidup selama aku hidup. Kalau aku mati perasaan itu akan mati, dan rindu itupun sirna.
Oleh karena itu kuberikan salam
untuk rindu :
“Rindu, menanggulangimu sama sekali
bukan obat. Karena kau bukan penyakit. Melupakanmu bukanlah hal yang tepat,
karena kau bukan sesuatu yang kongkrit. Membunuhmu bukan hal yang wajar, karena
kau intuisi yang paling imanen.
Lantas kau? Aku tahu, aku tak cukup bijaksana jika menghindarimu, acuh padamu, dan tidak mau mengenalmu. Kau adalah bagian dari diriku yang harus aku kenal. Tapi saat ini aku tak cukup mampu menanggung derita untuk mengenalmu lebih jauh. Untuk lebih mengerti apa yang paling kau ingini dari diriku. Tapi rindu, maafkanlah aku. Bersabarlah sampai aku mau mendengar
keterusteranganmu. Tentangmu, tentang seseorang yang sembunyi-sembunyi di dalam dirimu. Terima kasih untuk selalu menjagaku dalam kepahitan. Kau adalah bukti dari kasih sayang Tuhan padaku. Tolong katakan pada-Nya, bahawa aku mengingini engkau, lebih dari apa yang seharusnya.”
Lantas kau? Aku tahu, aku tak cukup bijaksana jika menghindarimu, acuh padamu, dan tidak mau mengenalmu. Kau adalah bagian dari diriku yang harus aku kenal. Tapi saat ini aku tak cukup mampu menanggung derita untuk mengenalmu lebih jauh. Untuk lebih mengerti apa yang paling kau ingini dari diriku. Tapi rindu, maafkanlah aku. Bersabarlah sampai aku mau mendengar
keterusteranganmu. Tentangmu, tentang seseorang yang sembunyi-sembunyi di dalam dirimu. Terima kasih untuk selalu menjagaku dalam kepahitan. Kau adalah bukti dari kasih sayang Tuhan padaku. Tolong katakan pada-Nya, bahawa aku mengingini engkau, lebih dari apa yang seharusnya.”
Ya, mungkin itu yang bisa kukatakan
kepada rindu. Semuanya memang sulit untuk aku pahami, tapi aku cukup tahu diri,
bahwa tak setiap hal mampu aku hindari.