Senin, 10 November 2014

Apakah segalanya dalam hidup perlu dirasakan



08/11/14
06:08

Dalam hidup ini, apakah segala hal perlu dirasakan dan dijalani? Ada yang bilang untuk menjadi seseorang yang paling bijaksana di dalam hidup yang harus kita lakukan adalah bergumul dengan realitas alam. bergumul dengan kenyataan-kenyataan yang kadangkala bersebrangan. Agar kita tahu bahwa semua ini kompleks sehingga tidak harus ada picik dalam memahaminya. 

Jika kita bertemu dengan orang-orang yang baik mungkin kita harus bertemu dengan orang yang jahat. Ketika kita sering bersama dengan orang yang menjalankan syariat agama, mungkin di lain waktu kita harus sering-sering berdiskusi dengan orang yang kontra agama dan penuh ke-atheisan. Ketika kita sering merasakan kedamaian dan ketentraman maka seharusnya kita juga dapat merasakan konflik, kebencian, rasa sakit dan penderitaan. Jika kita terikat maka bebaskanlah. Jika sudah bebas apakah keterikatan itu perlu di coba lagi?

Mencobai semuanya apa melegakan? Karena hidup dalam gejala yang sama tidak akan membuat kontemplasi dan aksi yang lebih konstruktif lagi. hidup dalam gejala yang sama hanya akan statis di tempat yang sama dengan pikiran monoton. Dan yang monoton itu sama sekali tidak berkelas sama sekali, bukan?

Tetapi ketika kita mencoba melangkahi batas-batas yang ada, mencoba melangkahi satu demi persatu nilai, norma atau dogma sekalipun. Lalu bahkan kita menerima sebuah konsekuensi logis yang tidak pernah diprediksikan.

 Maka apakah semuanya akan berakhir dengan kediaman dan segudang pertanyaan. Apakah ketika proses dari dekontruksi menuju rekontruksi itu akan selalu ada kegamangan didalamnya. Bukan semacam keraguan hanya sekilas bayang-bayang komparasi antara apa yang terjadi di masa lalu dan masa kini. Dan itulah yang terbesit, terbesit dan terbesit lagi.

Aku tidak bisa berhenti berpikir, aku tidak bisa berhenti bertanya, aku tidak bisa tidak untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan. Sekarang aku masih diam dan tetap bertanya ; apakah segalanya dalam hidup perlu dirasakan?

 Mungkin aku sama sekali tidak bisa memilih untuk meyakini sebuah esensi kehidupan, sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk memutuskan. Meski aku disodorkan oleh uraian-uraian yang panjang dari seseorang tentang ketuhanan. Atau literasi-literasi tentang kebebasan yang disodorkan oleh seseorang yang lainnya. semuanya masih dalam utopia ; angan-angan.

 Karena semuanya tanpa emosi, tanpa perasaan, atau tanpa bathin barangkali. Atau aku menemukan tapi sama sekali belum finish, karena memulainyapun aku tidak cukup berniat. Karena melapurkan diri dalam kenyataan baru itu sebuah tantangan yang bukan mudah.

Aku ini, aku yang kurang berusaha, kurang mencoba dan kurang berdedikasi karena katanya aku orang yang nyaris tanpa iman. Meski aku berkata aku punya iman tapi mereka bilang ; cara yang berpikir sepertiku adalah ciri orang yang tidak memiliki keimanan sama sekali

. Ya, kadangkala dalam hidup semuanya cepat berubah dan serba kontradiksi. Tapi tanpa iman? Sepertinya adalah sebuah ketepatan. Karena tidak ada yang kuyakini yang ada hanya yang kukagumi dan yang kusukai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar