08/11/14
06:08
Dalam hidup
ini, apakah segala hal perlu dirasakan dan dijalani? Ada yang bilang untuk
menjadi seseorang yang paling bijaksana di dalam hidup yang harus kita lakukan
adalah bergumul dengan realitas alam. bergumul dengan kenyataan-kenyataan yang
kadangkala bersebrangan. Agar kita tahu bahwa semua ini kompleks sehingga tidak
harus ada picik dalam memahaminya.
Jika kita bertemu dengan orang-orang yang
baik mungkin kita harus bertemu dengan orang yang jahat. Ketika kita sering
bersama dengan orang yang menjalankan syariat agama, mungkin di lain waktu kita
harus sering-sering berdiskusi dengan orang yang kontra agama dan penuh
ke-atheisan. Ketika kita sering merasakan kedamaian dan ketentraman maka seharusnya
kita juga dapat merasakan konflik, kebencian, rasa sakit dan penderitaan. Jika
kita terikat maka bebaskanlah. Jika sudah bebas apakah keterikatan itu perlu di
coba lagi?
Mencobai
semuanya apa melegakan? Karena hidup dalam gejala yang sama tidak akan membuat
kontemplasi dan aksi yang lebih konstruktif lagi. hidup dalam gejala yang sama
hanya akan statis di tempat yang sama dengan pikiran monoton. Dan yang monoton
itu sama sekali tidak berkelas sama sekali, bukan?
Tetapi
ketika kita mencoba melangkahi batas-batas yang ada, mencoba melangkahi satu
demi persatu nilai, norma atau dogma sekalipun. Lalu bahkan kita menerima
sebuah konsekuensi logis yang tidak pernah diprediksikan.
Maka apakah semuanya
akan berakhir dengan kediaman dan segudang pertanyaan. Apakah ketika proses
dari dekontruksi menuju rekontruksi itu akan selalu ada kegamangan didalamnya.
Bukan semacam keraguan hanya sekilas bayang-bayang komparasi antara apa yang
terjadi di masa lalu dan masa kini. Dan itulah yang terbesit, terbesit dan
terbesit lagi.
Aku tidak
bisa berhenti berpikir, aku tidak bisa berhenti bertanya, aku tidak bisa tidak
untuk mengekspresikan apa yang aku rasakan. Sekarang aku masih diam dan tetap
bertanya ; apakah segalanya dalam hidup perlu dirasakan?
Mungkin aku sama
sekali tidak bisa memilih untuk meyakini sebuah esensi kehidupan, sama sekali
tidak memiliki kekuatan untuk memutuskan. Meski aku disodorkan oleh
uraian-uraian yang panjang dari seseorang tentang ketuhanan. Atau
literasi-literasi tentang kebebasan yang disodorkan oleh seseorang yang
lainnya. semuanya masih dalam utopia ; angan-angan.
Karena
semuanya tanpa emosi, tanpa perasaan, atau tanpa bathin barangkali. Atau aku
menemukan tapi sama sekali belum finish, karena memulainyapun aku tidak cukup
berniat. Karena melapurkan diri dalam kenyataan baru itu sebuah tantangan yang
bukan mudah.
Aku ini, aku
yang kurang berusaha, kurang mencoba dan kurang berdedikasi karena katanya aku
orang yang nyaris tanpa iman. Meski aku berkata aku punya iman tapi mereka
bilang ; cara yang berpikir sepertiku adalah ciri orang yang tidak memiliki
keimanan sama sekali
. Ya, kadangkala dalam hidup semuanya cepat berubah dan
serba kontradiksi. Tapi tanpa iman? Sepertinya adalah sebuah ketepatan. Karena
tidak ada yang kuyakini yang ada hanya yang kukagumi dan yang kusukai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar