Selasa, 01 April 2014

KATA ORANG HARUS FOKUS



”terlalu banyak UKM yang kamu ikutin. Harusnya kamu fokus pada sebuah hal. karena kalau cuman setengah-setengah. Kamu tidak akan pernah menjadi apapun.”
“tiwi, kamu nggak punya totalitas, perhatian kamu terbagi banyak. Kalau mau di ranah politik totalitas disana. Kalau mau ranah pemikiran juga totalitas disana. Jangan ga jelas bersikap.”
“kamu punya kemampuan. Tapi sayang kalau kemampuan kamu tidak terorganisir dengan baik. aktif dimana-mana itu bagus tapi pilih satu yang maksimal di jalanin.”

Begitulah komentar-komentar orang kepadaku akhir-akhir ini. aku selalu tak totalitas dan loyal dalam sebuah hal. ku akui ambisi untuk tahu banyak hal membuat aku mau mencoba banyak hal juga. Tapi aku tahu hanya satu kemapanan yang akan membawaku pada pencapaian yang aku idam-idamkan.  Aku memang terlalu pusing dengan kesibukan-kesibukan yang tidak penting. Aku menggunakan diriku dengan berbagai hal yang aku sendiripun tidak tau apa esensinya. Dan yang aku dapatkan hanya lelah tanpa signifikansi aksi yang berkelanjutan.
 Aku mengerti, bahwa aku adalah tipikal manusia pembosan. Aku tidak bisa hidup dalam monoton. Jiwaku adalah cinta dinamis dan akan selalu seperti itu. pergerakan yang tidak pernah berakhir. Situasi yang selalu berubah. Dan penambahan-penambahan rasa pikiran dan rasa hati yang beragam. Itu semua adalah ekpektasiku. Oleh karena itu aku mencoba memberi warna dalam relung batinku dengan bergumul. Aku tidak hanya tinggal dalam sebuah lingkungan. Tapi aku mencoba mencari komparasi agar segmentasiku tidak parsial. Tapi ini keterlaluan dan berlebihan. Ini sudah payah dan tidak membawa apapun jika dibiarkan.
Seperti yang orang-orang bilang, aku perlu fokus!
Apa yang aku inginkan? Apa yang aku sukai.
Sejak dari masa lalu inspirasiku terlahir dengan mudah di dunia literasi dan retorika. Aku suka kedua hal tersebut karena entah kenapa. Mungkin karena EKSISTENSI? Aku bahagia jika aku berkontribusi hingga pada akhirnya eksis.  Dan aku tahu kerja kerasku belum sampai menuju harapan. Jadi memang sebaiknya aku kesampingkan dahulu hal-hal yang lain dan lebih bergiat dengan literasi dan retorika.
 Aku juga tidak harus banyak berpikir. Karena aku tahu pikiran itu selalu saja melahirkan keraguan. Dan rasa bimbang yang berasaskan ragu selalu jadi penghalang. Kadang berbuat frontal itu amat dibutuhkan. Tindakan refleks suka menyelamatkan. Dan sesuatu yang begitu saja selalu lebih mudah dari yang terorganisir. Yang mengalir biasanya memberikan sensasi beda. (nggak nyambung konteks -,-)
Oke kembali ke fokus,
Akhir-akhir ini aku sedang menyukai seorang filsuf empirisme, Ludwig Feurbach. Dia bilang yang paling penting di dunia ini adalah tindakan. Intelektualitas yang kita kembangkan saat ini sebenarnya untuk memperlancar tindakan kita. Karena dengan tindakan manusia bisa bahagia. Dan realitasnya manusia menilai lewat tindakan. Jadi metafisika dan agama harus ditinggalkan. Ya, aku terinspirasi dari penjelasan Feurbach tentang tindakan. Jadi agar bisa kembali ke fokus aku harus bertindak. Dan setidaknya memilah tindakan. Karena manusia semuanya sama, yang membedakannya adalah tindakan. Dengan tindakan manusia bisa menjadi apa-apa atau bahkan bukan siapa-siapa. Tindakan adalah segalanya.
Mulai hari ini untuk fokus.
Aku mau mempersedikit waktu senganggku.
Aku mau banyak menulis dan mendiskusikan tentang berbagai tulisan.
Aku mau banyak belajar tentang retorika lebih banyak.
Aku mau sering membaca dan mendengar
Aku mau lebih kongkrit dalam bertindak.
Aku ingin totalitas
Aku ingin loyalitas
Aku ingin punya komitmen
Dan semuanya berawal dari aksi. Dari aksi yang pasti harus  dilandasi oleh keberanian.
 DN AIDIT, tokoh kontroversial karena paham komunismenya. Pernah memberikan jargon yang berbunyi ;
Berani, berani, berani!
kita harus berani!
Bertindak, bertindak, bertindak!
Kita harus bertindak!

Jadi kunci dalam kehidupan ini adalah berani bertindak.
Dan untuk itu komitmennya di bangun oleh “FOKUS”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar