”terlalu banyak UKM
yang kamu ikutin. Harusnya kamu fokus pada sebuah hal. karena kalau cuman
setengah-setengah. Kamu tidak akan pernah menjadi apapun.”
“tiwi, kamu nggak
punya totalitas, perhatian kamu terbagi banyak. Kalau mau di ranah politik
totalitas disana. Kalau mau ranah pemikiran juga totalitas disana. Jangan ga
jelas bersikap.”
“kamu punya
kemampuan. Tapi sayang kalau kemampuan kamu tidak terorganisir dengan baik.
aktif dimana-mana itu bagus tapi pilih satu yang maksimal di jalanin.”
Begitulah
komentar-komentar orang kepadaku akhir-akhir ini. aku selalu tak totalitas dan
loyal dalam sebuah hal. ku akui ambisi untuk tahu banyak hal membuat aku mau
mencoba banyak hal juga. Tapi aku tahu hanya satu kemapanan yang akan membawaku
pada pencapaian yang aku idam-idamkan. Aku
memang terlalu pusing dengan kesibukan-kesibukan yang tidak penting. Aku menggunakan
diriku dengan berbagai hal yang aku sendiripun tidak tau apa esensinya. Dan yang
aku dapatkan hanya lelah tanpa signifikansi aksi yang berkelanjutan.
Aku mengerti, bahwa aku adalah tipikal manusia
pembosan. Aku tidak bisa hidup dalam monoton. Jiwaku adalah cinta dinamis dan
akan selalu seperti itu. pergerakan yang tidak pernah berakhir. Situasi yang
selalu berubah. Dan penambahan-penambahan rasa pikiran dan rasa hati yang
beragam. Itu semua adalah ekpektasiku. Oleh karena itu aku mencoba memberi
warna dalam relung batinku dengan bergumul. Aku tidak hanya tinggal dalam
sebuah lingkungan. Tapi aku mencoba mencari komparasi agar segmentasiku tidak
parsial. Tapi ini keterlaluan dan berlebihan. Ini sudah payah dan tidak membawa
apapun jika dibiarkan.
Seperti yang
orang-orang bilang, aku perlu fokus!
Apa yang aku
inginkan? Apa yang aku sukai.
Sejak dari masa
lalu inspirasiku terlahir dengan mudah di dunia literasi dan retorika. Aku suka
kedua hal tersebut karena entah kenapa. Mungkin karena EKSISTENSI? Aku bahagia
jika aku berkontribusi hingga pada akhirnya eksis. Dan aku tahu kerja kerasku belum sampai menuju
harapan. Jadi memang sebaiknya aku kesampingkan dahulu hal-hal yang lain dan
lebih bergiat dengan literasi dan retorika.
Aku juga tidak harus banyak berpikir. Karena aku
tahu pikiran itu selalu saja melahirkan keraguan. Dan rasa bimbang yang berasaskan
ragu selalu jadi penghalang. Kadang berbuat frontal itu amat dibutuhkan. Tindakan
refleks suka menyelamatkan. Dan sesuatu yang begitu saja selalu lebih mudah
dari yang terorganisir. Yang mengalir biasanya memberikan sensasi beda. (nggak
nyambung konteks -,-)
Oke kembali ke
fokus,
Akhir-akhir ini aku
sedang menyukai seorang filsuf empirisme, Ludwig Feurbach. Dia bilang yang
paling penting di dunia ini adalah tindakan. Intelektualitas yang kita
kembangkan saat ini sebenarnya untuk memperlancar tindakan kita. Karena dengan
tindakan manusia bisa bahagia. Dan realitasnya manusia menilai lewat tindakan. Jadi
metafisika dan agama harus ditinggalkan. Ya, aku terinspirasi dari penjelasan
Feurbach tentang tindakan. Jadi agar bisa kembali ke fokus aku harus bertindak.
Dan setidaknya memilah tindakan. Karena manusia semuanya sama, yang
membedakannya adalah tindakan. Dengan tindakan manusia bisa menjadi apa-apa
atau bahkan bukan siapa-siapa. Tindakan adalah segalanya.
Mulai hari ini
untuk fokus.
Aku mau
mempersedikit waktu senganggku.
Aku mau banyak
menulis dan mendiskusikan tentang berbagai tulisan.
Aku mau banyak
belajar tentang retorika lebih banyak.
Aku mau sering membaca
dan mendengar
Aku mau lebih
kongkrit dalam bertindak.
Aku ingin totalitas
Aku ingin loyalitas
Aku ingin punya
komitmen
Dan semuanya
berawal dari aksi. Dari aksi yang pasti harus
dilandasi oleh keberanian.
DN AIDIT, tokoh kontroversial karena paham
komunismenya. Pernah memberikan jargon yang berbunyi ;
Berani, berani,
berani!
kita harus berani!
Bertindak,
bertindak, bertindak!
Kita harus
bertindak!
Jadi kunci dalam
kehidupan ini adalah berani bertindak.
Dan untuk itu
komitmennya di bangun oleh “FOKUS”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar