Terlalu banyak hal yang seharusnya dilupakan tetapi masih
diingat karena sesuatu. Waktu itu aku tidak pernah lupa karena aku berada pada
zona ketidaksadaranku.
Tapi semuanya memudar seiring bergulirnya waktu. Ketika
aku mulai memastikan apa yang seharusnya aku ingat dan aku lupakan. Saat aku
temukan pangkal logika dari yang meninggikanku. Saat aku tahu aku telah banyak
terdiam. aku mencoba mengalihkan fokus hidupku dan aku bahagia.
Ku tahu korelasi bahagia itu hanya pencapaian dan itu bukan
kamu. sesuatu yang ke kamu-kamuan sering mendilemakanku dan pada akhirnya tak
berguna. Melahirkan inspirasi mungkin,
tapi tak beguna. Ku akui aku memang
bodoh dan tidak tahu apa-apa.
Untuk kamu yang sangat terkasih. Aku mau bilang aku sudah
malupakanmu. Lajur pikiranku kini jauh dari persimpangan beberapa waktu lalu.
mungkin aku juga sudah lelah. Dan semuanya ku mau menghanyut dalam sejarah.
Biarkan semua hanya menjadi neus-neus empirisme yang memoralkan masa depan.
Selamat jalan, selamat menempuh pencapaian baru dalam
dimensi-dimensi lain. Masalah melupakan mungkin memang sudah takdir.
Nietzsche sempat berujar
;
Biarkan perahuku berlayar, dan perahumu berlayar di samudra
luas. Dan kita jadikan bintang-bintang itu sebagai pedoman berlayar kita.
biarkan bintang-bintangku membimbingku dan biarkan bintang-bintangmu
membimbingmu. Jika suatu ketika kita bersimpangan jalan. Tak apa, itu adalah
sebuah takdir.
Amorfati. Kecintaan terhadap takdir. Kecintaan terhadap
keniscayaan.
Kadang, menerima sebuah realitas dengan tulus adalah sebuah cara
meredam kecewa dan gelisah.
Aku tahu kamu melupakan aku dan pada akhirnya akupun
melupakanmu.
Mungkin, saling melupakan adalah pilihan terbaik (Huft, aku
sedih menuliskan ini)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar