Sabtu, 05 April 2014

KERANGKA REALITASKU


Dalam kehidupan yang realita saat ini, aku sudah mengalami berbagai fase kehidupan dari bahagia menjadi biasa saja. Atau dari biasa saja menjadi sedih. Adalah sudah biasa ketika pergolakan masalah hati itu berlangsung. Karena memang sudah begitu. Tuhan sebagai pemegang kekuasaan hukum di alam semesta ini menentukan arah jalan dan tujuan yang ditentukannya. Apa yang terjadi dalam kehidupan manusia  memang biasa saja. Tapi perspective yang terlahir dari apriori manusialah yang menciptakan konflik.
Ketika berpikir maka segala hal yang seharusnya tidak pernah ada menjadi ada. Dan ketika mencinta maka kedamaian yang akan kita dapatkan. Sesuatu yang berbau rasionalisme bagaimana sejarah telah membuktikannya banyak membawa pada kehancuran. Perang terjadi karena ambisi yang ingin dicapai. Sehingga menghalalkan segala cara demi tercapainnya idealisme itu. tapi rasa kasih takkan pernah melihat itu. dengan sisi kemanusiaanya manusia bisa hidup dengan penuh keberadapan. Tapi dengan akal manusia sering terjatuh pada pelukaan harga dirinya sendiri dengan pembunuhan dan pengrusakan. Inilah yang menjadi dilema abadi meskipun memang manusia dalam komposisi jiwanya memiliki dua hal yaitu luapan emosi dan luapan nurani. Tapi keduanya memiliki sisi yang lebih di tonjolkan dan yang terlalu di tonjolkan tidak akan pernah baik. sebagaimana kita melihat realitas yang ada.


Tentang realitas diriku sendiri, aku tak ingin terlalu banyak berkomentar. Terkadang membiarkannya mengalir begitu saja itu sudah lebih dari cukup dari pada banyak berekspektasi. Tak apalah, aku juga sudah cukup rasanya untuk memahami hidup. Aku hanya berusaha berbuat dan berkata yang baik. meski ku tahu kadang pikiranku selalu terasa tak baik. tapi semua kebaikan memang perlu diimbangi dengan ketidakbaikan, mau seperti apapun harus ada dua hal yang melebur, agar tercipta sensasi. Tapi kini, mengapa aku merasa ada yang SALAH?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar