Dalam kehidupan yang realita
saat ini, aku sudah mengalami berbagai fase kehidupan dari bahagia menjadi
biasa saja. Atau dari biasa saja menjadi sedih. Adalah sudah biasa ketika pergolakan
masalah hati itu berlangsung. Karena memang sudah begitu. Tuhan sebagai pemegang
kekuasaan hukum di alam semesta ini menentukan arah jalan dan tujuan yang
ditentukannya. Apa yang terjadi dalam kehidupan manusia memang biasa saja. Tapi perspective yang terlahir
dari apriori manusialah yang menciptakan konflik.
Ketika berpikir maka segala
hal yang seharusnya tidak pernah ada menjadi ada. Dan ketika mencinta maka
kedamaian yang akan kita dapatkan. Sesuatu yang berbau rasionalisme bagaimana
sejarah telah membuktikannya banyak membawa pada kehancuran. Perang terjadi
karena ambisi yang ingin dicapai. Sehingga menghalalkan segala cara demi tercapainnya
idealisme itu. tapi rasa kasih takkan pernah melihat itu. dengan sisi kemanusiaanya
manusia bisa hidup dengan penuh keberadapan. Tapi dengan akal manusia sering
terjatuh pada pelukaan harga dirinya sendiri dengan pembunuhan dan pengrusakan.
Inilah yang menjadi dilema abadi meskipun memang manusia dalam komposisi
jiwanya memiliki dua hal yaitu luapan emosi dan luapan nurani. Tapi keduanya
memiliki sisi yang lebih di tonjolkan dan yang terlalu di tonjolkan tidak akan
pernah baik. sebagaimana kita melihat realitas yang ada.
Tentang realitas diriku
sendiri, aku tak ingin terlalu banyak berkomentar. Terkadang membiarkannya
mengalir begitu saja itu sudah lebih dari cukup dari pada banyak berekspektasi.
Tak apalah, aku juga sudah cukup rasanya untuk memahami hidup. Aku hanya
berusaha berbuat dan berkata yang baik. meski ku tahu kadang pikiranku selalu
terasa tak baik. tapi semua kebaikan memang perlu diimbangi dengan
ketidakbaikan, mau seperti apapun harus ada dua hal yang melebur, agar tercipta
sensasi. Tapi kini, mengapa aku merasa ada yang SALAH?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar