Jumat, 18 April 2014

TENTANG PENDERITAAN



Penderitaan sering diidentikan dengan kesuraman hidup, frustrasi, gelisah, kesedihan dan bisa jadi rasa sakit yang tiada berujung. Setidaknya aku pernah menderita dan sering menderita. ajaran Budha bilang hakikatnya hidup adalah penderitaan. Dan terkadang itu yang selalu aku rasakan. Hidup dari sebuah penderitaan ke dalam penderitaan yang lain. Mungkin orang selalu menjustifikasi penderitaan identik dengan pesimisme hidup. Dan orang yang pesimis adalah orang yang sama sekali tak bergairah untuk mencapai yang asasi. Tapi bagiku terkadang penderitaan adalah sebuah sensasi. Sensasi yang memberikan warna dalam hidupku. meskipun aku harus mengaduh sakit ketika aku terjatuh. Meski kadang aku terlalu banyak mengeluh karena tak kuasa menahan siksaan jiwa. Meski kadang aku lebih memilih diam dan melihat kehidupan ketimbang banyak bicara. sering aku lelah dan berkata, seandainya aku tak punya perasaan. Mungkin derita tak akan pernah mengaliri perjalanan tindakanku. Tapi seberapa besarpun aku mengelak dan mencoba lari. Penderitaan tidak pernah berhenti mengejarku. Ia akan selalu dan tetap tinggal dalam jiwa yang punya rasa. Dan sebagai mahluk yang berperasaan  yang harus aku lakukan adalah menikmati penderitaan ini.
Nietzsche bilang penderitaan adalah anugerah. Rasa sakit akibat penderitaan yang dirasakan manusia akan meningratkannya. Meninggikan kapasitas, intelektualitas dan kebijaksanaanya. Tapi dilain sisi ia akan mengisolasi dirinya. Karena ia punya kesulitan untuk mengatakan kepada orang lain tentang apa yang ia pikirkan dan ia rasakan. Ia melindungi dirinya dari orang-orang yang tidak sederajat dengannya mengenai penderitaan. Karena orang lain tidak akan pernah memahami penderitaan yang ia rasakan.
Aku tahu, bahwa setiap kali manusia dijatuhkan, di hina, merasa di tindas dan terasing sesungguhnya Tuhan sedang berusaha meninggikan kualitas dirinya. Mental yang kuat perlu di uji. Seperti halnya sebuah tembok, ia tidak pernah dikatakan kokoh kalau ia belum pernah diterpa badai dan segala realitas hidup yang menggoncangnya. Jika ia tetap berdiri ia digdaya, tapi kalau ia roboh ia nista. Aku tahu, penderitaan-penderitaan mental yang kadangkala kuraskaan adalah potensi-potensi untuk mencapai kebijaksanaan diriku secara lebih proposional.
Tapi kini aku merasa gagal memenej penderitaanku sendiri. Aku sering kalap terbawa alam rasionalis subjektifku. Aku menyalahkan perasaan lagi dan lagi. tapi haruskah aku marah? Ini tidak relevan. Setiap orang harus menderita. Karan orang-orang besarpun tidak lahir tanpa penderitaan yang di bawanya. Orang-orang besar selalu menderita. Dan mereka terbiasa hidup menderita. Saking terbiasanya mereka sudah tidak bisa memilah lagi mana derita mana yang bukan derita. Semuanya sama saja, karena penderitaan telah menyatu kedalam yang imanen. Nietzsche pun menderita sakit, gila dan tersiksa. Ia soliter sampai akhir hayatnya. Lalu Hitler yang sejak kecil terkenal sebagai anak yang antisosial, dicekam nestapa karena realitas tak sesuai imaji. Menggelandang kemudian bernafsu hingga jaya. Atau . . . tokoh-tokoh lainnya yang besar dari masa jauh sebelum masehi sampai akhir masehi mereka adalah orang-orang yang menderita. Karena penderitaan mereka mengadakan dirinya dalam sebuah eksistensi.
Lalu aku?! mengapa kadang membenci derita. Bukankah orang yang banyak melakukan pencapaian hidupnya adalah orang yang tak pernah berdamai dengan jiwanya? Bukankah mereka orang yang biasa dicekam gelisah sehingga tiada pilihan selain bertindak ? mungkin hasrat kebudakan ini terlalu melampaui hasrat kebajikanku. Dan yang menjadi dasar renungan sakitku dari dulu hanya satu. Aku tak pernah bisa mengatasi penderitaan yang itu sehingga Tuhan terus memberikan derita yang sama agar aku pada akhirnya bisa menyelesaikannya. Bukan mengucapkan selamat tinggal dan berusaha melupakan. Ada sebuah saat dimana aku berpikir; bagaimana kalau aku menjadi seorang pembenci perasaan saja? Karena luapan emosi yang akhirnya terilustrasi dalam keberanian aksi berasal dari kebencian.
Sayang, aku orang yang berhati anti konflik, aku suka tidak mendendam. Meski aku tidak pernah melupakan kesalahan orang. Yang sering terbesit dibenakku adalah perkataan John .F Kennedy “Maafkanlah semua kesalahan orang lain. Tapi jangan lupakan dosa-dosa mereka.” aku selalu berusaha memaafkan kesalahan orang tapi dosa mereka akan selalu kuingat.
Dan saat ini aku sedang terjangkiti sebuah penderitaan, tapi aku tahu penderitaanku yang ini tak berkualitas. Aku mau mencari penderitaan lain yang lebih berkualitas. Aku tidak mau terlalu mengurusi yang terlalu. Karena ketika tiba-tiba ada kata terlalu. Maka fokusku akan menjadi terlalu juga. Dan dari sanalah celah dimana aku mengalami kejatuhan. Mungkin aku harus belajar menghindari menyukai orang juga belajar menghindari untuk tidak menyukai orang.  Kesukaanku yang menghancurkanku, dan aku agak muaks.

Di hari esok kuharap perasaanku akan mampu memperlakukan setiap manusia sama. Ku harap aku tidak akan pernah menyukai apa atau siapapun lagi di muka bumi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar