Penderitaan sering diidentikan dengan kesuraman
hidup, frustrasi, gelisah, kesedihan dan bisa jadi rasa sakit yang tiada
berujung. Setidaknya aku pernah menderita dan sering menderita. ajaran Budha bilang
hakikatnya hidup adalah penderitaan. Dan terkadang itu yang selalu aku rasakan.
Hidup dari sebuah penderitaan ke dalam penderitaan yang lain. Mungkin orang
selalu menjustifikasi penderitaan identik dengan pesimisme hidup. Dan orang
yang pesimis adalah orang yang sama sekali tak bergairah untuk mencapai yang
asasi. Tapi bagiku terkadang penderitaan adalah sebuah sensasi. Sensasi yang
memberikan warna dalam hidupku. meskipun aku harus mengaduh sakit ketika aku
terjatuh. Meski kadang aku terlalu banyak mengeluh karena tak kuasa menahan
siksaan jiwa. Meski kadang aku lebih memilih diam dan melihat kehidupan ketimbang
banyak bicara. sering aku lelah dan berkata, seandainya aku tak punya perasaan.
Mungkin derita tak akan pernah mengaliri perjalanan tindakanku. Tapi seberapa
besarpun aku mengelak dan mencoba lari. Penderitaan tidak pernah berhenti
mengejarku. Ia akan selalu dan tetap tinggal dalam jiwa yang punya rasa. Dan sebagai
mahluk yang berperasaan yang harus aku
lakukan adalah menikmati penderitaan ini.
Nietzsche bilang penderitaan adalah anugerah. Rasa
sakit akibat penderitaan yang dirasakan manusia akan meningratkannya. Meninggikan
kapasitas, intelektualitas dan kebijaksanaanya. Tapi dilain sisi ia akan
mengisolasi dirinya. Karena ia punya kesulitan untuk mengatakan kepada orang
lain tentang apa yang ia pikirkan dan ia rasakan. Ia melindungi dirinya dari
orang-orang yang tidak sederajat dengannya mengenai penderitaan. Karena orang
lain tidak akan pernah memahami penderitaan yang ia rasakan.
Aku tahu, bahwa setiap kali manusia dijatuhkan, di
hina, merasa di tindas dan terasing sesungguhnya Tuhan sedang berusaha meninggikan
kualitas dirinya. Mental yang kuat perlu di uji. Seperti halnya sebuah tembok,
ia tidak pernah dikatakan kokoh kalau ia belum pernah diterpa badai dan segala
realitas hidup yang menggoncangnya. Jika ia tetap berdiri ia digdaya, tapi
kalau ia roboh ia nista. Aku tahu, penderitaan-penderitaan mental yang
kadangkala kuraskaan adalah potensi-potensi untuk mencapai kebijaksanaan diriku
secara lebih proposional.
Tapi kini aku merasa gagal memenej penderitaanku
sendiri. Aku sering kalap terbawa alam rasionalis subjektifku. Aku menyalahkan
perasaan lagi dan lagi. tapi haruskah aku marah? Ini tidak relevan. Setiap orang
harus menderita. Karan orang-orang besarpun tidak lahir tanpa penderitaan yang
di bawanya. Orang-orang besar selalu menderita. Dan mereka terbiasa hidup
menderita. Saking terbiasanya mereka sudah tidak bisa memilah lagi mana derita
mana yang bukan derita. Semuanya sama saja, karena penderitaan telah menyatu
kedalam yang imanen. Nietzsche pun menderita sakit, gila dan tersiksa. Ia
soliter sampai akhir hayatnya. Lalu Hitler yang sejak kecil terkenal sebagai
anak yang antisosial, dicekam nestapa karena realitas tak sesuai imaji. Menggelandang
kemudian bernafsu hingga jaya. Atau . . . tokoh-tokoh lainnya yang besar dari
masa jauh sebelum masehi sampai akhir masehi mereka adalah orang-orang yang
menderita. Karena penderitaan mereka mengadakan dirinya dalam sebuah
eksistensi.
Lalu aku?! mengapa kadang membenci derita. Bukankah
orang yang banyak melakukan pencapaian hidupnya adalah orang yang tak pernah
berdamai dengan jiwanya? Bukankah mereka orang yang biasa dicekam gelisah
sehingga tiada pilihan selain bertindak ? mungkin hasrat kebudakan ini terlalu
melampaui hasrat kebajikanku. Dan yang menjadi dasar renungan sakitku dari dulu
hanya satu. Aku tak pernah bisa mengatasi penderitaan yang itu sehingga Tuhan
terus memberikan derita yang sama agar aku pada akhirnya bisa menyelesaikannya.
Bukan mengucapkan selamat tinggal dan berusaha melupakan. Ada sebuah saat
dimana aku berpikir; bagaimana kalau aku menjadi seorang pembenci perasaan
saja? Karena luapan emosi yang akhirnya terilustrasi dalam keberanian aksi
berasal dari kebencian.
Sayang, aku orang yang berhati anti konflik, aku
suka tidak mendendam. Meski aku tidak pernah melupakan kesalahan orang. Yang sering
terbesit dibenakku adalah perkataan John .F Kennedy “Maafkanlah semua kesalahan
orang lain. Tapi jangan lupakan dosa-dosa mereka.” aku selalu berusaha
memaafkan kesalahan orang tapi dosa mereka akan selalu kuingat.
Dan saat ini aku sedang terjangkiti sebuah
penderitaan, tapi aku tahu penderitaanku yang ini tak berkualitas. Aku mau
mencari penderitaan lain yang lebih berkualitas. Aku tidak mau terlalu
mengurusi yang terlalu. Karena ketika tiba-tiba ada kata terlalu. Maka fokusku
akan menjadi terlalu juga. Dan dari sanalah celah dimana aku mengalami
kejatuhan. Mungkin aku harus belajar menghindari menyukai orang juga belajar
menghindari untuk tidak menyukai orang. Kesukaanku
yang menghancurkanku, dan aku agak muaks.
Di hari esok kuharap perasaanku akan mampu
memperlakukan setiap manusia sama. Ku harap aku tidak akan pernah menyukai apa
atau siapapun lagi di muka bumi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar