Jumat, 18 April 2014

KEBENARAN ATAU KEYAKINAN?



Kita sering mendengar dari orang lain bahwa kita harus menghancurkan nafsu iblis yang ada di dalam diri kita untuk mencapai kebenaran. Kebenaran absolut dari Tuhan, kebenaran relative lahir dari manusia-manusia yang gamang akan hidupnya sendiri. Tapi kini yang sedang mendunia kebenaran science.
Ada yang bilang bahwa segala tindakan kita harus sesuai dnegan kebenaran. Norma, dogma, dan nilai yang ada di masyarakat adalah hal-hal yang membuat kita tentram. Dengan adanya aturan manusia bisa hidup sesuai dengan fitrahnya. Dengan aturan semuanya tidak akan semrawut lagi. seperti halnya lintasan jalan dan lampu lalu lintas. Kalau tidak aturan berkendara maka orang akan mengemudi seenaknya dan yang ada adalah kecelakaan demi kecelakaan yang tidak terbilang saking banyaknya. Dengan aturan lalu lintas saja banyak kejadian kcelakaan apalagi jika tidak ada aturan yang mengikatnya.
Analogi?! Buatku tidak semua hal bisa di generalisasi. Tidak semua hal bisa disamaratakan. Manusia yang sering menyamaratakan kehidupan adalah manusia yang tidak kreatif. Manusia yang sering berpikir struktural adalah manusia yang tidak bisa memahami bahwa manusia adalah mahluk yang tidak hanya punya rasio tapi juga hati yang lebih mendominasi.
Nietzsche mengkritisi positivistik karena segala hal diukur oleh rasio semata. Semuanya harus sistematis, logis dan penuh cara-cara tertentu. Padahal manusia lahir dari pengalaman indrawi. Dan rasio bukan segala-galanya.
Aku orang empiris! Saat ada istilah bahwa manusia harus mengikuti sesuatu yang benar aku tidak setuju! Kebenaran itu buatku bukanlah segala-galanya. Kebenaran itu hanya kehendak manusia yang ingin mengadakan kebenaran itu sendiri. Nietzsche bilang realitas hanyalah realitas, manusia yang memberi nilai dan batasan-batasan kebenaran atau kesalahan. Untuk apa kita kita harus benar? Sedangkan kebenaran itu plural? Memangnya kenapa kalau salah? memangnya hidup itu harus benar dan jangan salah yah? Untuk apa membenar-benarkan sesuatu dan menyalah-nyalahkan sesuatu? Lucu!
Kurasa kebanaran bukanlah segala-galanya. Keyakinan adalah segala-galanya. Kebenaran terlahir dari keyakinan. Ukuran-ukuran kebenaran tidak penting. Keyakinanlah yang penting. Kita tahu, intuisi manusia tahu bahwa perang adalah hal yang buruk. Tapi perang masih dimana-mana. Orang tahu pembunuhan itu biadab, tapi pembunuhan masih dimana-mana. Apalah artinya sebuah kebenaran.  Apalah artinya sebuah kesalahan. Semuanya tak berarti.
Jadi yang melandasi manusia bertindak bukanlah faktor kebenaran tapi faktor keyakinan. Dan aku, nilai-nilai keyakinanku masih sering terdegradasi oleh carut-marutnya kebenaran di luar diriku. Kadang aku merasa aku perlu menghilang.

Dan yang terakhir, mengapa kalau atheist atau mengapa kalau antiteist? Asumsi dosa hanya ada pada pola pikir yang sudah di bentuk oleh jiwa-jiwa naif semata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar