Kita sering mendengar dari orang lain bahwa kita
harus menghancurkan nafsu iblis yang ada di dalam diri kita untuk mencapai
kebenaran. Kebenaran absolut dari Tuhan, kebenaran relative lahir dari
manusia-manusia yang gamang akan hidupnya sendiri. Tapi kini yang sedang
mendunia kebenaran science.
Ada yang bilang bahwa segala tindakan kita harus
sesuai dnegan kebenaran. Norma, dogma, dan nilai yang ada di masyarakat adalah
hal-hal yang membuat kita tentram. Dengan adanya aturan manusia bisa hidup
sesuai dengan fitrahnya. Dengan aturan semuanya tidak akan semrawut lagi.
seperti halnya lintasan jalan dan lampu lalu lintas. Kalau tidak aturan
berkendara maka orang akan mengemudi seenaknya dan yang ada adalah kecelakaan demi
kecelakaan yang tidak terbilang saking banyaknya. Dengan aturan lalu lintas
saja banyak kejadian kcelakaan apalagi jika tidak ada aturan yang mengikatnya.
Analogi?! Buatku tidak semua hal bisa di
generalisasi. Tidak semua hal bisa disamaratakan. Manusia yang sering
menyamaratakan kehidupan adalah manusia yang tidak kreatif. Manusia yang sering
berpikir struktural adalah manusia yang tidak bisa memahami bahwa manusia
adalah mahluk yang tidak hanya punya rasio tapi juga hati yang lebih
mendominasi.
Nietzsche mengkritisi positivistik karena segala
hal diukur oleh rasio semata. Semuanya harus sistematis, logis dan penuh cara-cara
tertentu. Padahal manusia lahir dari pengalaman indrawi. Dan rasio bukan
segala-galanya.
Aku orang empiris! Saat ada istilah bahwa manusia
harus mengikuti sesuatu yang benar aku tidak setuju! Kebenaran itu buatku
bukanlah segala-galanya. Kebenaran itu hanya kehendak manusia yang ingin
mengadakan kebenaran itu sendiri. Nietzsche bilang realitas hanyalah realitas,
manusia yang memberi nilai dan batasan-batasan kebenaran atau kesalahan. Untuk apa
kita kita harus benar? Sedangkan kebenaran itu plural? Memangnya kenapa kalau
salah? memangnya hidup itu harus benar dan jangan salah yah? Untuk apa
membenar-benarkan sesuatu dan menyalah-nyalahkan sesuatu? Lucu!
Kurasa kebanaran bukanlah segala-galanya. Keyakinan
adalah segala-galanya. Kebenaran terlahir dari keyakinan. Ukuran-ukuran
kebenaran tidak penting. Keyakinanlah yang penting. Kita tahu, intuisi manusia
tahu bahwa perang adalah hal yang buruk. Tapi perang masih dimana-mana. Orang tahu
pembunuhan itu biadab, tapi pembunuhan masih dimana-mana. Apalah artinya sebuah
kebenaran. Apalah artinya sebuah
kesalahan. Semuanya tak berarti.
Jadi yang melandasi manusia bertindak bukanlah
faktor kebenaran tapi faktor keyakinan. Dan aku, nilai-nilai keyakinanku masih
sering terdegradasi oleh carut-marutnya kebenaran di luar diriku. Kadang aku
merasa aku perlu menghilang.
Dan yang terakhir, mengapa kalau atheist atau
mengapa kalau antiteist? Asumsi dosa hanya ada pada pola pikir yang sudah di bentuk
oleh jiwa-jiwa naif semata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar