Rabu, 06 November 2013

Ada yang berbeda

Ada yang berbeda setiap kali aku meresapi pagi. Masih seperti pagi-pagi yang sebelumnya. Keindahan itu tidak pernah memudar. Keindahan yang membawaku pergi kesebuah dimensi waktu yang lain. Kesebuah kedalaman perasaan yang membuatku ingin terhenyak lama. Suasana sebelum pagi mungkin sangat biasa tapi bagiku itu teramat istimewa. Aku suka duduk sendirian sambil mengamati langit. Menatap gunung yang ada di ujung sana. Lalu mendongkakkan kepalaku, menatap bulan yang hanya separuh. Atau bintang yang bertaburan di tiap sudut garis lintang dan khatulistiwa. Ah Itu indaaaahhhh.
Ada dingin yang menenangkan. Ada kelegaan yang mulai datang. Menatap langit adalah bahagia yang sederhana. Karena setiap kali aku di hadapkan pada kondisi itu. Aku selalu ingin bahagia dan merenungi tentang makna hidup yang aku jalani. Ini mungkin bukan terletak pada pagi melainkan keindahan yang ada di pagi hari. Aku suka keindahan apapun dan dimanapun itu. Bukan hanya keindahan yang ada di alam nyata. Melainkan juga keindahan yang ada di alam lukis atau bahkan ilusi.
Aku tidak terlalu memahami apa bedanya penglamun dan pengilusi. Mungkin penglamun hanya diam tanpa berpikir apapun. Tapi kalau berilusi ada sesuatu yang di bayangkan atau di khayalkan. Ini terlalu menyenangkan. Aku sangat punya banyak waktu untuk itu. Membayangkan hal yang indah-indah itu membahagiakan bukan? Ketika kita punya keinginan, harapan, angan, cita-cita dan hasrat yang selama ini hanya terpendam di dalam hati. Lalu kita tidak punya sesuatu untuk melabuhkan semua rasa itu. Maka berimajinasi adalah sebuah media yang paling mudah untuk merealisasikannya. Berkhayal itu bisa meleburkan semuanya, semua keraguan dan ketidak berdayaan yang kita punya. Meskipun itu merupakan penghidupan yang tidak nyata. Namun masalah nyata atau fiksi itu bukan kendala. Yang penting bahagia. Karena manusia itu tidak butuh nyata manusia hanya butuh bahagia. Bukankah semua orang mengejar kesuksesan agar mendapatkan kebahagiaan? Bukankah setiap orang mendedikasikan hidupnya demi impian agar bisa bahagia? Jadi hakikatnya manusia itu mengejar bahagia.
Bahagia ya?! Aku masih bingung sih sebenarnya. kadang saat aku menginginkan sesuatu yang aku tahu itu akan sulit. Aku sudah belajar terbiasa untuk memikirkannya. Karena buatku memikirkannya saja sudah cukup. (Sudah cukup membuatku bahagia) meskipun tidak akan pernah cukup membuatku merasa puas. Karena puas itu letaknya di bersyukur. Sekaya apapun manusia tidak akan merasa puas. Seperti yang dosen aku bilang. The more we have the more we want. Semakin banyak yang manusia punya maka dia akan semakin serakah. Oleh karena itu tidak salah kalau korupsi meraja lela. Memang Allah sudah menggariskan bahwa manusia memiliki nafsu yang tidak pernah puas. Seperti salah satu teori ekonomi ; keinginan manusia itu tidak pernah terbatas 'unlimited'. Tapi pemuas kebutuhan itu terbatas maka jadilah masalah.
Masalah adalah sebuah kondisi dimana harapan kita tidak sesuai kenyataan. Saat manusia punya pengharapan tingkat tinggi tapi situasinya lain. Mungkin hal itu bisa menimbulkan galau, frustasi, lalu strees berkepanjangan dan bunuh diri.
Disini, mungkin perlu adanya cara memenej hati. Jujur kalau dijabarkan secara rinci aku memang punya banyak hal yang bertentangan antara nurani dengan realita. Tapi aku malas untuk kecewa dan jadi sedih. Aku ingin hidup damai oleh karena itu aku melupakan semuanya. Menganggapnya akan baik-baik saja. Menikmati hidup dan bahagia. Seperti ini, bahkan disaat sendiri dan kesepianpun aku masih bisa berkhayal. Tak apalah.
Karena tidak setiap keinginan itu harus menjadi kenyataan. Tapi bahagia memang harus selalu dirasakan.
Ya Allah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar