Ada yang berbeda
setiap kali aku meresapi pagi. Masih seperti pagi-pagi yang sebelumnya.
Keindahan itu tidak pernah memudar. Keindahan yang membawaku pergi kesebuah
dimensi waktu yang lain. Kesebuah kedalaman perasaan yang membuatku ingin
terhenyak lama. Suasana sebelum pagi mungkin sangat biasa tapi bagiku itu
teramat istimewa. Aku suka duduk sendirian sambil mengamati langit. Menatap
gunung yang ada di ujung sana. Lalu mendongkakkan kepalaku, menatap bulan yang
hanya separuh. Atau bintang yang bertaburan di tiap sudut garis lintang dan
khatulistiwa. Ah Itu indaaaahhhh.
Ada dingin yang menenangkan. Ada
kelegaan yang mulai datang. Menatap langit adalah bahagia yang sederhana.
Karena setiap kali aku di hadapkan pada kondisi itu. Aku selalu ingin bahagia
dan merenungi tentang makna hidup yang aku jalani. Ini mungkin bukan terletak
pada pagi melainkan keindahan yang ada di pagi hari. Aku suka keindahan apapun
dan dimanapun itu. Bukan hanya keindahan yang ada di alam nyata. Melainkan juga
keindahan yang ada di alam lukis atau bahkan ilusi.
Aku tidak terlalu memahami apa
bedanya penglamun dan pengilusi. Mungkin penglamun hanya diam tanpa berpikir
apapun. Tapi kalau berilusi ada sesuatu yang di bayangkan atau di khayalkan.
Ini terlalu menyenangkan. Aku sangat punya banyak waktu untuk itu. Membayangkan
hal yang indah-indah itu membahagiakan bukan? Ketika kita punya keinginan,
harapan, angan, cita-cita dan hasrat yang selama ini hanya terpendam di dalam
hati. Lalu kita tidak punya sesuatu untuk melabuhkan semua rasa itu. Maka
berimajinasi adalah sebuah media yang paling mudah untuk merealisasikannya.
Berkhayal itu bisa meleburkan semuanya, semua keraguan dan ketidak berdayaan
yang kita punya. Meskipun itu merupakan penghidupan yang tidak nyata. Namun
masalah nyata atau fiksi itu bukan kendala. Yang penting bahagia. Karena
manusia itu tidak butuh nyata manusia hanya butuh bahagia. Bukankah semua orang
mengejar kesuksesan agar mendapatkan kebahagiaan? Bukankah setiap orang
mendedikasikan hidupnya demi impian agar bisa bahagia? Jadi hakikatnya manusia
itu mengejar bahagia.
Bahagia ya?! Aku masih bingung
sih sebenarnya. kadang saat aku menginginkan sesuatu yang aku tahu itu akan
sulit. Aku sudah belajar terbiasa untuk memikirkannya. Karena buatku
memikirkannya saja sudah cukup. (Sudah cukup membuatku bahagia) meskipun tidak
akan pernah cukup membuatku merasa puas. Karena puas itu letaknya di bersyukur.
Sekaya apapun manusia tidak akan merasa puas. Seperti yang dosen aku bilang.
The more we have the more we want. Semakin banyak yang manusia punya maka dia
akan semakin serakah. Oleh karena itu tidak salah kalau korupsi meraja lela.
Memang Allah sudah menggariskan bahwa manusia memiliki nafsu yang tidak pernah
puas. Seperti salah satu teori ekonomi ; keinginan manusia itu tidak pernah
terbatas 'unlimited'. Tapi pemuas kebutuhan itu terbatas maka jadilah masalah.
Masalah adalah sebuah kondisi
dimana harapan kita tidak sesuai kenyataan. Saat manusia punya pengharapan
tingkat tinggi tapi situasinya lain. Mungkin hal itu bisa menimbulkan galau,
frustasi, lalu strees berkepanjangan dan bunuh diri.
Disini, mungkin perlu adanya cara
memenej hati. Jujur kalau dijabarkan secara rinci aku memang punya banyak hal
yang bertentangan antara nurani dengan realita. Tapi aku malas untuk kecewa dan
jadi sedih. Aku ingin hidup damai oleh karena itu aku melupakan semuanya.
Menganggapnya akan baik-baik saja. Menikmati hidup dan bahagia. Seperti ini,
bahkan disaat sendiri dan kesepianpun aku masih bisa berkhayal. Tak apalah.
Karena tidak setiap keinginan itu
harus menjadi kenyataan. Tapi bahagia memang harus selalu dirasakan.
Ya Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar