Selasa, 05 November 2013

Ini yang aku pilih tentang jalan hidup


Catatan dari Facebook tertanggal 3 September 2013 at 14:03

Sempat dilema oleh beberapa hal. Ini tentang jalan hidup yang memberikan pilihan dan berbagai resiko. Sempat terpikir untuk menjadi orang agamis yang baik dst. Tapi ternyata bukan, bukan itu yang membuatku bilang : "ya ini aku." Orang yang dekat dengan Tuhan belum tentu agamis. Tapi orang agamis pasti dekat dengan Tuhan. Ini bukan masalah harga tapi selera. Ini bukan masalah baik atau buruk tapi masalah kepercayaan diri 'comfortable' . Orang yang agamis itu terikat dengan dogma, yang mengacu pada ajaran. Dan ajaran itu doktrin . Doktrin itu hanya benar dan salah. Hitam dan putih. salah ya salah. bener ya bener nggak ada yang perlu di kontraversikan. Nggak ada yang perlu di pertanyakan lalu di analisis. Semua telah terjelaskan lewat aturan hidup. Tapi aku nggak gitu. Dipikiran aku baik atau salah itu relative. Karena manusia tumbuh dan berkembang sesuai pengalaman dengan presepsi mereka masing-masing. Nggak ada yang mutlak bener. Salah bagi kita mungkin benar bagi orang lain. Mungkin benar bagi kita salah bagi orang. Jadi nggak usah terlalu kepo dengan pandangan orang. Toh semua orang punya opini dan argumentasi. Jadi?! Aku lebih memilih jadi orang yang biasa aja. Yang berperasangka bahwa segalanya itu tak memiliki batasan adanya.

Aku memutuskan karena aku berpikir. Referensi bukan di ambil dari kata orangsih. Ini lebih ke intuisi dan perasaan terdalam. Aku orang yang nggak suka terikat sama sebuah hal. Di atur atau di kekang. Aku nggak suka terlalu bermain dengan masalah hati. Mungkin hidup tanpa emosi itu lebih baik. Kadang nggak peka itu lebih baik. Kadang mengesampingkan presepsi orang itu lebih baik. Toh capek rasanya memikirkan tanggapan orang tentang diri kita. Karena sebaik apapun manusia tidak akan terlepas dari kritik dan kebencian orang. Sebaik apapun manusia pasti ada yang tidak menyukainya. Nabi aja yang ahlaqnya baik masih punya musuh. Tokoh perdamaian sekeren Abraham Lincoln aja di bunuh. Mahatma Gandhi yang menjadi simbol kebaikan aja di bunuh. Munir yang vokal untuk menegakan HAM aja di bunuh. Kata siapa orang baik ga punya musuh. Justeru jelas kalau orang baik itu musuhnya kejahatan. So, berbeda itu biasa. Terserah apa yang orang lain lakukanlah. Terserah apa yang ingin saya lakukan juga. Karena jujur saya orang yang paling nggak suka di kritik ; ini mutlak. Karena kritik itu lebih ke destruktive ; hanya melihat sisi buruk personal ajah. Tapi aku sangat suka dengan saran dan nasihat. kata-kata yang membangun bukan menjantuhkan. Kata-kata yang membuat kita bersemangat. Bukan kata yang membuat kita sedih dan frustasi.

Biarkan semuanya berjalan. Manusia terlahir untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Jadi kenapa harus mendadak repot dan pusing?! Meskipun mungkin kerepotan itu muncul karena ada ekspetasi lebih dari dalam hati. Sekali lagi entahlah, manusia hanya mampu mereka. Tapi aku tidak peduli dengan siapa atau apapun. Cukup melangkah dengan apa yang aku anggap benar. Karena aku bahagia saat aku bisa melakukan hal yang aku inginkan. Aku bahagia saat mengatakan apa yang ingin kukatakan. Aku ingin menjadi diriku sendiri.

Hidup tanpa di atur.
Hidup tanpa emosi.
Hidup tanpa presepsi orang.
Hidup dengan pola pribadi.

Sudah cukup aku mencoba untuk mencari aku sudah cukup lelah. Dan aku sudah memutuskan. Aku tau apa yang paling aku inginkan dalam hidup. Aku tahu jalan mana yang aku harus lalui untuk sampai kesana. Satu yang aku perlukan ; dedikasi !

Untuk seseorang yang membuatku ingin kesal dan menyerah.
Urusi saja hidupmu sendiri. Aku akan mengurusi hidupku sendiri. Kita tidak usah saling mengurusi kehidupan yang bukan milik kita. Karena kita tidak punya hak untuk itu.

Dan aku sudah pergi sejak kemarin pagi, dimana saat aku mulai kecewa dan memilih untuk tidak pernah berpaling lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar