Jumat, 29 November 2013

Hanya Gelisah hati


Catatan 25 November 2013

Sebuah masa tidakakan pernah ada tanpa sebuah sejarah. Antara masa lalu dan masa kini terdapat ketersambungan yang nyata. Dan tak dapat dipisahkan. Ketika aku terdiam dan merenung. Aku tahu hidupku hanyalah persinggahan. Apa yang pernah terjadi hanya sesuatu yang bukan apa-apa. Meski saat ini aku berdiri. Tapi aku fana juga. Aku hanya manusia yang terjebak dalam raga seorang makhluk. Andai bisa aku memilih , aku hanya ingin ada sebagai jiwa. Aku bebas melakukan dan mengekspresikan seluruh hasrat yang kupunya tanpa tanpa sebuah hambatan. 
Tapi aku tak bisa memilih. Apa yang menjadi takdirku kini adalah bukan sebuah pilihan.  Apa gunanya juga aku mengeluh. Toh tidak akan membawa realitas kepada ekpektasi. Terkadang aku sering memikirkan berbagai fenomena yang ada di alam dunia.  Kadang aku suka bingung, kadang aku suka terhenyak. Bahkan kadang aku suka marah. Karena apa yang kulihat tidak sebanding dengan ideaku. Aku sering resah berbalut kecewa yang membelenggu memenuhi dada. Seluruh amarah yang terpendam dan menumpuk menjadi batu kegelisahan. Terhempas oleh rasa sakitnya. Terselip diantara kepalsuan indrawi, sebenarnya aku telah kalut dan ingin frustasi. Kadang aku merasa sudah gila dengan apa yang aku pikirkan.. yang aku pikirkan dan hanya diriku sendiri yang mengerti apa makna yang aku pikirkan itu.
Ya, maknaku adalah makna yang berketidakjelasan. Dan sedikit memuakkan jika dianalisis.
Aku tidak tahu.
Aku masih belum mengerti apa itu hakikat manusia. apa itu penemuan jati diri. Apa itu hidup yang berguna. Aku telah membaca literature tapi hal itu tidak pernah membuatku merasa puas.
Apa yang aku cari, apa yang aku pikirkan. Semua tak dapat terjawab oleh literature itu. karena semuanya adalah perspective dan sesuatu yang belum pasti kebenarannya. Bukan sesuatu yang absolute dan objective. Sehingga aku terjnak dalam timbangan-timbangan keterbatasanku sendiri.
Ah tentang hal ini, aku mau berhenti untuk bertanya lagi. karena aku merasa aku takkan menemukannya.
Hanya satu dalam kesatuannya yang tidak pernah aku lupa. Lagi, lagi, lagi, aku fana. Aku tidak akan pernah menemukan kabadianku. Karena rancangan kehidupan sudah menempatkanku dalam situasi dan kondisi yang sudah begini.
Mungkin lain kali, aku harus pasrah saja,,
Menikmati semua seperti air yang mengalir. Tak usah ada yang mmbebani hati. mencuatkan emosi atau mengotori perasaan. Karena kedinginan dan lajur asa telah terbentuk sesuai gelombang yang ada. Meski aku harus tidak mengerti lagi.
Entahlah.
Entah kenapa aku serimg tidak mengerti

Mungkin karena aku bodoh, miskin intektual,tidak punya ketajaman intusi yang tinggi atau apa. Tapi biarkan yang terpendam ini tetap rapat pada keterasingannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar