Selasa, 11 Februari 2014

APAPUN TENTANG DIRIKU


31 Januari 2014

Aku tidak tahu kalau aku akan sedemikian bosan dengan kadaan diam. Aku tidak pernah tahu kalau akhirnya aku mencoba mencari berbagai hal untuk mengalihkan pucuk frustrasi dan keresahan yang melanda pikiran dan perasaaan. Aku tidak pernah tahu kalau dalam perjalanannya aku menemukan ssuatu yang baru, lalu aku terdiam dan mungkin terhempas dalam pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Aku sempat terjatuh beberapa kali dalam emosi dan harapan yang sama. Namun tak berselang aku kelupaan tentang apa yang menjadi emosiku saat itu. Dan memutuskan untuk pergi ke arah yang lain.
Kalau berbicara mengenai kepastian, aku paham kalau hidupku masih tidak pasti kemana arah tujuan dan akhirnya. Karena aku tahu bahwa seteguh apapun saat ini prinsip di buat dan di jalankan pasti dalam dinamikanya akan terjadi persinggungan dan perbedaan dalam menafsirkan ralitas. Pengalaman, hasrat, lingkungan yang akhirnya membawa dalam paradigma pemikiran yang baru. Cita-cita baru, bahkan sekelumit kata-kata yang jauh dari asalnya. Menanggapi hal ini aku tidak menjustifikasi bahwa terdapat kesalahan. Aku mengira bahwa apapaun yang berbeda dari awalan adalah sebuah kewajaran dan hukum alam. jika kau ingin tetap sama, maka tinggalah dalam kesamaan dan jangan pernah bergerak atau mencoba melihat apapaun juga. Cukuplah dengan apa adanya yang sekarang saja.
Tapi aku tidak begitu. dalam hidup, aku tidak memegang identitas apapun. Bahkan agama sekalipun jika aku mampu. Tapi saat ini yang namanya agama masih begitu menjadi hal fundamental dan terlalu sakit jika diabaikan. Telah kulihat Sesuatu yang terlalu mengakar kuat. akan menjadi penghalang intergritas dan kebebasan yang seharusnya mampu diungkapkan dan diluapkan dalam ekspresi aksi yang nyata. Ya, tapi mungkin ini hanya perpective dan semuanya relative.
Aku, aku yang begini saja. Sejauh pandanganku aku tak punya kapasitas, kualitas hidupku tidak baik-baik amat. Jauh dari kebiasaan orang-orang sukses yang namanya di kenal dimuka bumi ini. berbicara pencapaianpun aku tak punya apapun yang bisa aku banggakan. Tapi setidaknya aku sedang cukup menikmati hidupku, merasa bahagia dengan aku yang memang aku. kalapun kadang aku sering ingin kesal karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ekpektasi amarahku. Tapi inilah adalah wajar, dan tidak ada yang salah dalam depresi, frustrasi, putus asa, atau kecewa. Ini adalah wajar. Yang tidak wajar adalah keterlaluan dalam menafsirkan apa yang ada. Sehingga luapannya menimbulkan percikan-percikan kejahatan. Tidak ada yang disebut kejahatan untuk diri sendiri. Kejahatan itu di peruntukan bagi sesuatu yang membuat orang lain merasa durugikan perasaanya. Kejahatan bagi diri sendiri hanyalah lambang untuk menunjukan bahwa yang dilakukan tidak ssuai dengan nilai dan norm yang idealkan  berdasarkan keumuman. Tapi untuk apa terus terkungkung dalam batasan-batasan yang adanya hanya menyusahkan. Jika manusia sadar sepenuhnya tentang moralitas yang sama dan hidup dalam pluralisme yang sewajarnya. Tidak perlu ada apapaun di dunia ini.
Dan aku, aku biarkan aku tetap membawa diriku yang apa adanya, dengan membawa kekecewaanku pada banyak hal, yang tak  harus ku ungkapkan. Karena itu tidak akan mengubah apapaun. Kecuali kelegaan perasaan yang kadang salah kaprah. Lalu sesaat membuatku bingung.


Hm, seandainya ada orang yang mampu menetralisir kebingungan-kebingungan dalam pikiranku, mungkin dengan mudah aku akan menyukainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar